rumah di tubir jurang

Posted: Mei 8, 2010 in drama, indonesian language, naskah drama, Uncategorized

RUMAH

DI  TUBIR  JURANG

NASKAH  DRAMA  REMAJA

  1. YOGA

Para Tokoh

Eyang Kakung                              : Usia 80

Tuan Sunan                  : Setengah Baya

Nyonya Sumirah          : Setangah Baya

Papa (Umar)                  : 23 tahun

Mama (Lastri)                               : 23 tahun

Mawar                                            : 21 tahun

Noki                                                : 21 tahun

Ijah                                 : Pembantu Rumah Tangga 17 tahun

Dikisahkan  di  sebuah  rumah dihuni oleh Eyang Kakung ( pelupa dan sering mengigau sendiri ), Tuan – Nyonya ( suami yang tak mampu mengendalikan rumah tangga dan istri yang pencuriga dan egois ), Papa – Mama ( menikah dalam usia muda karena “kecelakaan” dan hidup berfoya-foya ), Mawar dan Noki ( pacarnya ) yang terseret dalam pergaulan bebas dan nikah siri tanpa diketahui orangtuanya. Dan Ijah pembantu rumah tangga yang genit. Orang-orang inilah yang akan berjuang keluar dari permasalahan hidup dan menyelamatkan citra keluarga  besarnya  dari  kehancuran. Ibarat negara, akan hancur kalau masing-masing daerah ( orang ) ingin bebas ( merdeka ) sendiri-sendiri tanpa mempertahankan aturan dan norma-norma moral yang berlaku.

1

( Rumah putih dengan perabotan antik, senapan angin di sisi kanan tembok, dua orang laki-laki dan perempuan setengah baya, duduk menghadap dua buah layar tv, asyik menyaksikan dunia lain, sebuah dunia maya. Masing-masing menonton acara tv kesukaan sendiri. Menghadap penonton. Di belakang nampak meja dan kursi lain, almari tempat menyimpan perkakas. Dari belakang, tepatnya dari atas seorang pencuri meluncur turun dari atap dengan tali, mukanya dibalut kain hitam, persis ninja di film-film. Pencuri dengan tenang dan kehati-hatian yang penuh, turun perlahan, mengambili perhiasan yang mudah didapat, masuk ke dalam kamar tempat perhiasan lain disimpan. Kemudian naik lagi ke atas keluar dengan aman ).

TUAN SUNAN            :                  Maafkan. Selama ini aku hanya diam saja. Habis bagaimana.  Semua sudah kau atasi sendiri. ( Sambil mengecilkan suara tv ).

NYONYA SUMIRAH :                  Hhhmmmmmmm. ( Batuk-batuk dan semakin mengeraskan suara tv ).

( TV dikecilkan NYONYA SUMIRAH, berdiri lalu mencari obat. Membuka-buka lemari, obat yang dicari tidak ada. Mendekat TUAN SUNAN, kesal dan memandang penuh kebencian. Kembali lagi ke almari mencari-cari. Kesal. Ke meja dan mengambil air minum setelah batuk rejannya hebat menghantam tubuh kurusnya ).

NYONYA SUMIRAH :                       ( Batuk ). Tak  ada  yang  beres  di  rumah  ini.  Semuanya maling. ( Batuk ). Sampai obat saja hilang. ( Bicara sambil membawa minuman ke tempat duduk di depan tv ).

TUAN SUNAN            :                     Kau kira aku yang mengambil. ( Sambil berdiri. Menyulut  pipa rokok tapi tidak berhasil ). Kita sudah tua, masak dari pernikahan dulu kita terus-menerus bertengkar. Kapan hidup damai. Sebentar-sebentar protes. Ngambek. Memangnya masalah hidup akan selesai dengan cara seperti itu.

NYONYA SUMIRAH :                       Kau kira ada yang mendengarkan dan mempercayai kata-katamu. Dasar mata keranjang. ( Sambil berdiri, nampak mengingat sesuatu dan emosial ). Kau masih saja punya perasaan sama tetangga sebelah kan. Ya aku tahu dia lebih bahenol dan lebih muda dariku. Kau kira aku tidak tahu tiap pagi kau pura-pura memberi makan ayam-ayam di belakang rumah, sambil bertukar pandang dengan dia. Iya  kan. Mengaku saja. ( TUAN SUNAN nampak salah tingkah ). Tiap hari pula aku perhatikan tingkah polahmu dan aku mencoba bersabar. Tapi sekali lagi kau berbuat begitu, hari itu pula kau harus angkat kaki dari rumah ini. Banyak saksi mata yang melihat kau sering bertemu dengan Rukiah, di terminal, di pasar sayur. Pantas suka pura-pura membantu aku belikan sayur. Ternyata ada udang di balik batu. Dan berapa kali kau tua bangka berboncengan dengan dia. Aku tidak bisa ditipu. Semuanya aku ketahui dengan persis.  ( Ketika TUAN SUNAN hendak mendekat, NYONYA SUMIRAH menjauh, nampak benci ). Jangan sentuh aku lagi. Semuanya telah berakhir. Sudah berakhir. ( Berkemas, masuk kamar ). Aku benci. Aku benci. Aku benci.

( TUAN SUNAN hanya bisa menatap kosong ruang tamu yang sunyi. Mematikan semua tv, duduk di sofa panjang. Berdiri, berjalan memandangi potret, kenangan pengantin,  nampak tersenyum, membersihkan foto yang sudah berdebu, kembali memasangnya, dengan kebahagiaan kecil. Berjalan ke almari, mencari-cari pipa gadingnya di dalam almari, ternyata sudah tidak ada. Mencari lagi ke sana ke mari, namun tidak menemukan. Melihat kamar NYONYA SUMIRAH dengan kesal, rasanya ingin membalas dendam ).

TUAN SUNAN           :                      Aku tahu siapa yang mencuri di rumah ini. Aku sudah merasa sejak dulu. Dulu kelihatan baik. Tapi akhirnya semuanya terbongkar sudah. Dia pencuriga. Sama tetangga saja dia tidak bisa akur. Apa dia tidak sadar sebentar lagi akan mati. Mestinya ia berbaik-baik dengan semua orang. Tidak justru penyakit dengki dan curiganya bertambah parah. Aku sebagai kepala keluarga rupanya tidak pernah dihormati. Sikap egoisnya telah menguasai seluruh hidupnya. Keberadaanku sebagai suaminya rasanya tidak diakui lagi. Diremehkan. Tapi biarlah, suatu saat, ia pasti akan sadar.

2

( Dari arah kamar belakang muncul seorang kakek, rambut putih semua. Membawa pipa gading dan merokok, pakai baju jas lengkap dengan sepatu mengkilap. Membawa tas kerja dan tongkat keramat. Berjalan penuh wibawa meski jalannya sempoyongan. Duduk di depan meja dan segera mengeluarkan kaca mata minusnya, mengeluarkan arsip-arsip yang ada di dalam tas, memeriksa dan sesekali membaca kertas kerjanya. Sebelum dilanda kepikunan yang menumpuk, ia seorang manajer di sebuah perusahaan roti miliknya sendiri. Dulu begitu dihormati. Namun setelah kepikunannya kumat ia bagai sampah, tak ada gunanya,  diremehkan anak buahnya dan semua orang, bahkan dianggap meresahkan dan membuat repot keluarga, hampir ia akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa, tapi ditolak oleh pihak rumah sakit, pernah di panti wreda, sebulan kemudian pihak panti keberatan. Keluarga TUAN SUNAN tidak bisa berbuat banyak, mereka harus mengurusnya. TUAN SUNAN  kemudian mendekati dan mengamat-ngamati pipa gading yang dibawa EYANG KAKUNG, yang diletakkan di asbak. Pipa gading itu diambil TUAN SUNAN, diamat-amati dengan seksama, sebelum pipa dikembalikan lagi sudah direbut kembali oleh EYANG KAKUNG ).

TUAN  SUNAN       :       Kakung, ini sudah malam.

EYANG KAKUNG    :                        ( Sambil memeriksa berkas-berkas ). Semua pekerja memang brengsek semua. Tidak becus kerja. Semua salah. Pembukuan macam apa ini. Kapan perusahaan akan maju. ( Memandang sekeliling ). Sepagi ini juga belum ada yang masuk. Hanya seorang jongos kantor. Disiplinmu boleh. Kamu memang pekerja yang baik, pagi-pagi sudah buka kantor. Apakah sudah dipel dan dibersihan semua meja kursi.

TUAN SUNAN           :                      Sudah. ( Menjawab sambil tidak enak ).

EYANG KAKUNG    :                        Bagus. Bagus. Rencananya hari ini akan ada rapat perusahaan. Kamu tahu tidak rasa-rasanya perusahaan ini sudah menggaji para buruh lebih dari cukup. Bandingkan dengan perusahaan lain. Silahkan. Bapak-bapak dan Ibu-ibu semua yang hadir dalam rapat perusahaan hari ini. Tentunya semua yang hadir sudah memegang laporan perusahaan akhir-akhir ini. Dan silahkan dibaca. Silahkan. Pertanyaannya. Bagaimana mungkin perusahaan ini sudah mengalami kemerosotan yang begitu dratis. Pemasaran tidak jalan. Sehingga di sana sini tidak ada pemasukan keuntungan sama sekali, kalau begini terus, perusahaan akan bangkrut. Bangkrut. Kalau bangkrut aku akan keluar dan kalian tidak akan aku beri pesangon sama sekali. Aku akan jual perusahaan dan kemudian akan aku inveskan pada perkebunan durian. Di sana aku akan hidup lebih sederhana lagi dan akan bahagia sekali melihat kebun-kebunku. Aku akan membuat pondok rumah yang indah. Dan cucu-cucuku akan aku bawa ke sana semua setiap bulan sekali. Aku akan bahagia. Aku akan beli beberapa kuda terbaik yang ada, akan aku gunakan untuk tunggangan pribadi. Karena istriku sudah meninggal aku akan memohon kepada anak-anak untuk mencarikan istri lagi yang lebih cantik dan sempurna. Ah rasanya hidup akan membahagiakan.

TUAN SUNAN           :                      Betul sekali Kung. Dan sekarang calon istri Kakung sudah ada di sini.

EYANG KAKUNG     :                       Apakah kamu tidak bohong.

TUAN SUNAN           :                      Tidak. Sekarang Tuan Putri sudah ada di kamar Kakung. Sudah menunggu sejak tadi. Sebaiknya Kakung lekas tidur. ( Sambil membimbing EYANG KAKUNG ). Ijah ! Ijah !

IJAH                            :                     ( Dari dalam ). Iya Tuan. Ya Tuan. Sebentar !

TUAN SUNAN           :                      Tolong Kakung di antar ke kamar Tuan Putri. Kung Tuan Putri sudah menunggu. Kakung nanti langsung tidur duluan saja. Iya. Iya Tuan Putri yang cantik jelita sudah menunggu.

EYANG KAKUNG     :                       Ah betapa bahagianya hidup ini. Tuan Putri yang cantik jelita tunggu aku sebentar. Tunggu jangan tidur duluan. Ah Tuan Putri. Terima kasih anakku. Kamu memang anak yang berbudi luhur sama orang tua. Aku doakan kamu mendapatkan istri yang paling cantik sedunia. Seperti Cleopatra. Seperti Ken Dedes. Aha jangan mereka kan gila kekuasaan. Perempuan kalau gila kuasa apa pun akan ia lakukan. Menghalalkan segala cara. Kecantikan dan tubuhnya akan ia manfaatkan. Lebih baik cari perempuan cantik yang  alamiah. Aha  kenangan  masa  lalu. Kenangan  yang  indah. ( Bernyanyi sambi menari-nari, merayu-rayu IJAH, sesekali mencubit pipi IJAH ).

Abang-abang gendero londo

Wetan sitik kuburan mayit

Klambi abang nggo tondo moto

Wedak pupur nggo golek dhuwit

TUAN SUNAN           :                      Iya Kung. Iya. Tuan Putri ada di dalam. Sudah tidur. Jangan brisik. Nanti Tuan Putri terbangun. Kakung nyusul tidur ya. Kasihan Tuan Putri sendirian. Silahkan masuk. ( Setelah EYANG KAKUNG dan IJAH masuk, TUAN SUNAN nampak pikirannya lelah, duduk di sofa ). Hancur semua. Hancur semua. ( Masuk kamar. Eksit ).

3

( Dua orang pasangan muda masuk, habis berbelanja, membawa bawaan barang-barang. Meletakkan barang-barang di atas meja. Duduk di sofa nampak capai. Yang laki-laki tinggi kurus berwajah oval, yang perempuan berwajah bundar, pupurnya agak pudar. Pasangan keluarga muda ini nampak dengan lagak gaya sok modern ).

MAMA                        :                     ( Sambil memeriksa barang ). Papa tadi ada barang yang lupa kita beli. Baju itu. Kosmetik itu. Kenapa kita lupa. Papa lupa kan beli piyama. Kenapa kita menjadi pelupa. Jangan-jangan penyakit Kakung sudah menular pada kita. ( Berdiri nampak kesal. Berjalan modar-mandir ). Semua nampaknya sudah tidur. ( Melihat jam ).

PAPA                           :                    Panggil saja Ijah. Untuk membereskan ini. Suruh buatkan Papa kopi.

MAMA                        :                     Ijah ! Ijah !

IJAH                            :                     Iya ! Sebentar ! ( IJAH muncul ). Iya.

MAMA                        :                     Masukkan barang-barang ini.

PAPA                           :                    Ijah. ( Dengan suara mesra, dan terus memandangi IJAH ). Jangan lupa buatkan kopi kesukaan Papa. ( Nampak MAMA tidak suka akan sikap PAPA, cemburu ). Cepat ya, Ijaaahh. Apa si kecil sudah tidur.

IJAH                            :                     Iya. Sudah Tuan. ( Segera pergi sambil membawa barang-barang. Genit ).

PAPA                           :                    Begitu saja cemburu. Tidak apa kan sekali-sekali bersikap mesra sama pembantu. Agar mereka merasa kita hargai. Begitu sayang. Jagan cemberut. Nah begitu kan manis. Lho masih masam. Kalau gitu aku hitung tiga kali. Pasti tersenyum. Satu. Ha bibirnya mulai tersungging.  Dua.  Sudah  mulai  tersenyum.  Oh  senyumnya  baru sedikit. Senyumnya  dikulum. Dua  setengah. Mulai  merekah.  ( MAMA lantas terseyum dan marah-marah ).

MAMA                        :                     Aku tidak suka Papa menggoda begitu. Sudah. Sudah jangan bercanda. ( PAPA terus menggoda. Terjadi kejar-kejaran di ruang. Sesekali PAPA tertangkap namun dapat meloloskan diri. Terus bercanda. Mereka hampir berpelukan. Lalu MAMA meloloskan diri kembali ke sofa, menghempaskan tubuh, mengambil buah jeruk, mengupas ).

IJAH                            :                     ( Sambil menghidangkan kopi ). Ini kopinya, Tuan. ( PAPA hanya mengangguk, matanya tetap nakal ).

PAPA                           :                    Ngomong-ngomong kapan kita bisa punya rumah sendiri. Masak terus-terusan numpang di mertua. Malu kan.

MAMA                        :                     Ayah Ibu saja tidak keberatan kita tinggal di sini.

PAPA                           :                    Bukan masalah itu. Tapi bagaimana tanggung jawab seorang suami. Di samping itu tidak enak kan sama tetangga. Penilaian tetangga  itulah yang paling berat. Mereka sama sekali tidak mau tahu kondisi kita yang sebenarnya. Mereka hanya tahu kalau kita numpang di mertua. Itu saja. Karena tidak tahu itulah, omongan mereka tidak bersumber pada kebenaran. Jadinya yang diomongkan yang jelek-jelek saja. Kata pepatah lebih baik menunjukkan sedikit kebaikan kepada mertua dan jangan tinggal bersamanya. Daripada menunjukkan kebaikan yang banyak tapi tinggal bersamanya. Karena jika tinggal bersamanya kalau ada kejelekan sedikit saja maka semua kebaikan kita akan hilang. Seumur hidup yang dikenang dan dibicarakan hanya kejelekan-kejelekan kita saja.

MAMA                        :                     Maunya Papa bagaimana. Papa mau beli rumah. Memangnya kita punya uang.

PAPA                           :                    Ya itu masalahnya. ( Mereka terdiam cukup lama. Berpikir. PAPA minum kopi, berdiri dan berjalan hilir mudik ).

MAMA                        :                     Selama ini kita tidak pernah nabung. Kerjaan Papa juga tidak mesti. Kalau ada proyek baru kerja.

PAPA                           :                    Bagaimana kalau kita minta warisan terlebih dahulu. Tanah warisan itu bisa kita jual untuk beli rumah.

MAMA                        :                     Papa nggak salah ngomong toh. Orang tuaku masih hidup. Masak kita minta warisan terlebih dahulu.

PAPA                           :                    Sama saja toh nantinya kita juga akan menerima. Papa kira Ayah Ibu akan setuju melihat kondisi kita seperti ini.

MAMA                        :                     Tapi Mama tidak berani ngomong.

PAPA                           :                    Ya harus Mama yang ngomong. Mama yang bisa merayu. Pasti mau. Kalau Papa pasti sulit. Ibumu sih keras sekali. Kaku.

MAMA                        :                     Tidak mau ! Tidak mau !

PAPA                           :                    ( Terdiam sejenak ). Begini saja yang menghadap kita berdua.

MAMA                        :                     Tapi yang ngomong Papa.

PAPA                           :                    Ya berdua.

MAMA                        :                     Berdua.

PAPA                           :                    ( Sambil dinyanyikan ). Selamanya kita selalu berdua. Selamanya kita selalu satu. Dalam suka dan duka. Selamanya kita bahagia. Selamanya kita berdua. Berdua selamanya.

( Mereka nampak gembira. Berdansa  sambil masuk kamar. Eksit ).

4

( Pagi hari, di teras rumah yang nampak luas, bercat putih, di pinggir teras depan ada tulisan Jl. Tubir 275.  Di teras ada satu meja, dua kursi, dan EYANG KAKUNG tidur di kursi panjang, ada beberapa pot bunga, tempat menyiram air, suasana nampak asri. PAPA dan MAMA masuk dari luar sehabis kerja. Nampak wajahnya tegang. Seolah habis bertengkar. Mereka duduk dikursi saling tak peduli ).

PAPA                           :      Papa kan sudah bilang keluar saja dari pekerjaan itu. Kenapa harus ngoyo-ngoyo kerja keras sedang gajinya kecil. Enak perusahaan. Kita hanya diperas. Dijadikan sapi perahan. Dasar kapitalis.

MAMA                        :       Papa kira, Papa sudah mendapatkan pekerjaan yang layak. Kerja tidak tetap gitu.

PAPA                          :       Papa memang kerja tidak tetap tapi sekali kerja gajinya kan besar tidak seperti Mama. Papa kerja di proyek jadi kalau ada proyek pasti untungnya besar. Itu sudah bisa dipastikan. Tapi memang tahun ini. Proyek apa pun seret. Negara kacau. Investor takut menanam modal. Ini salah siapa. Mereka takut dibakar. Mereka takut didemo. Mereka takut nggak untung. Negara nggak stabil. Pemerintah disangsikan bisa ngatasi.

MAMA                         :     Mereka kan juga kapitalis. Gitu mencemooh pekerjaan Mama.

PAPA                            :     Papa tidak mencemooh. Papa mengingatkan kalau kita kerja sama kapitalis siap-siap tenaga kita diperas habis-habisan. Papa menyalahkan kapitalis itu kenapa menghargai tenaga kerja kita sangat rendah. Ya sedikit manusiawi gitu lho.

MAMA                         :     Kapitalis kok manusiawi. Nggak laku. Nggak untung. Nggak kapitalis namanya.

PAPA                            :     Ya sedikit sosialislah.

MAMA                         :     Jadi kapitalis yang sosialis. Masak ada. Kapitalis kok sosialis. Kapitalis ya kapitalis. Titik. Tidak sosialis dan tidak manusiawi.

PAPA                            :     ( Mereka terdiam sejenak. PAPA melihat EYANG KAKUNG ). Kenapa lagi Kakung tiduran di lantai. Bangunkan, Ma. Suruh tidur di dalam.

MAMA                        :       Mama yakin, Kakung terkenang lagi masa lalunya. Masa lalu yang membahagiakan. ( Mengambil senapan ). Pasti Kakung terkenang saat waktu perjuangan dulu. Mama juga nggak habis pikir, kenapa seseorang bisa jadi pelupa dan hanya ingat masa lalu saja. Tanpa sedikit pun bisa diajak bicara masa kini. Apalagi masa depan. Hidup hanya untuk masa lalu. Masa-masa kejayaan dulu. Apa itu yang dinamakan post power syndrom.

PAPA                           :      Sok tahu ! Memangnya Kakung punya kedudukan, punya jabatan, punya kuasa.

( Dari arah dalam masuk Tuan Sunan dan Nyonya Sumirah ).

TUAN SUNAN            :      ( Duduk di kursi ). Kalian habis kerja kok malah di sini. Apa sudah makan. ( MAMA dan PAPA nampak saling celingukan, seolah ada yang ingin dibicarakan dengan Ayahnya ).

NYONYA SUMIRAH :      Sebenarnya ada apa sih. ( Duduk di samping TUAN SUNAN ). Kelihatannya ada yang ingin dikatakan.

MAMA                         :      Papa saja yang ngomong.

PAPA                            :     Lebih baik Mama.

MAMA                         :      Papa !

PAPA                            :     Mama !

MAMA                         :      Papa !

PAPA                            :     Mama !

TUAN SUNAN            :      Kalian berdua seperti anak kecil. Ada apa sebenarnya. Memang kalian menikah terlalu muda, bahkan kuliah kalian nggak kalian selesaikan, mungkin itu yang menyebabkan kalian sering tengkar. Tapi sekarang kalian harus lebih dewasa.

MAMA                         :      Begini lho, Yah. Papa kan ingin punya rumah.

PAPA                            :     Mama yang pingin.

NYONYA SUMIRAH :      Sudah ! Sudah ! Kalian tak pernah dewasa.

MAMA                         :      Jadi kami pingin beli rumah.

NYONYA SUMIRAH :      Ya sudah kalau pinginnya begitu. Ibu dan Ayah juga tidak keberatan, mungkin itu akan menjadi lebih baik bagi kalian, agar bisa membangun keluarga secara mandiri. Rencananya mau beli rumah di mana ?

MAMA                         :      Masalahnya kami tidak punya uang. Uang kami tidak cukup untuk beli rumah itu. Karenanya kami sepakat ingin meminta hak kami pada Ayah Ibu.

TUAN SUNAN            :      Hak apa ?

MAMA                         :      Kami ingin warisan yang nantinya akan diberikan, kami minta dulu.

PAPA                            :     Iya, Yah. Kami sangat membutuhkan. Toh nanti juga warisan itu akan diberikan pada kami juga.

NYONYA SUMIRAH :      Tidak bisa. T i d a k   b i s a ! ( Mereka terdiam sejenak ). Kalian tahu apa artinya warisan. Kami masih segar bugar begini kalian menuntut warisan. Permintaan kalian itu tidak wajar. Toh kalian masih bisa tinggal di rumah ini. Mestinya kalian sedikit-sedikit bisa menabung untuk masa depan. Jangan bisanya cuma foya-foya, beli barang-barang yang mahal, barang yang belum perlu. Tidak usah gengsi. Gaya hidup kalian harus diubah.

PAPA                           :      Tapi kami ingin mandiri dan terpisah Ayah dan Ibu.

NYONYA SUMIRAH :      Itu bagus. Silahkan.

PAPA                            :     Tapi kami perlu uang. Perlu warisan itu.

NYONYA SUMIRAH :      T i d a k   b i s a.    T i d a k  !!!!  Kalian dengar.

( MAMA dan PAPA wajahnya nampak sangat kecewa, lekas masuk rumah. Suasana kemudian senyap. TUAN SUNAN dan NYONYA SUMIRAH saling menarik nafas dalam-dalam ).

5

( Dua orang remaja membawa tas, sangat modis, yang perempuan sedikit menor, yang laki-laki sedikit macho. Masuk ke halaman, ke teras rumah ).

MAWAR                      :      Assalamualaikum.

NYONYA SUMIRAH :      Walaikumsalam. ( Mereka saling bersalam-salaman, nampak NYONYA SUMIRAH tidak suka dengan NOKI ).

MAWAR                      :      Bagaimana keadaan Ayah Ibu.

NYONYA SUMIRAH :      Baik-baik.

MAWAR                      :      Kakung bagaimana.

TUAN SUNAN            :      Baik-baik saja. Masih seperti biasanya.

NYONYA SUMIRAH :      Suratmu barusan tadi pagi sampai. ( Mengambil surat yang ada di meja ). Ini belum Ibu baca. Apa isinya sih.

MAWAR                      :      Gimana Pak Pos sih, ini udah dua minggu aku kirim. ( Mengambil surat ). Cap kantor pos di sini saja tanggal 10, berarti sudah seminggu yang lalu. Dasar Pak Pos males.

NYONYA SUMIRAH :      Padahal dia hampir saban hari mampir ke sini. Apa dia lupa. Apa surat itu ketlinsut di kantor pos.

TUAN SUNAN            :      Sudahlah. Pokoknya anak kita sudah sampai rumah dengan selamat.

MAWAR                      :      Sebenarnya  surat  ini  hanya  ingin  memberi  tahu  Ayah dan Ibu. ( Memasukkan surat ke tas ). Sudahlah nanti akan kami beritahu, jadi surat ini dianggap saja tidak pernah ada.

NYONYA SUMIRAH :      Ini bagaimana, surat sudah sampai kok ditarik kembali. Sebenarnya ada  apa sih. Bagaimana kuliahmu. Jangan terlalu banyak pacaran. ( Menyindir mereka berdua ). Ingat kuliahmu.

MAWAR                      :      Terus terang kami sengaja menghadap Ayah Ibu karena ingin membicarakan perihal hubungan kami. Saya harap Ibu sudilah kiranya menganggap kami berdua sudah dewasa. Tidak seperti selama ini Ayah Ibu merasa bahwa kami masih anak-anak sehingga tidak diperkenankan berpendapat dan memutuskan segala sesuatu secara mandiri. Mawar percaya segala sesuatu keputusan Ibu sebenarnya ingin membahagiakan diri Mawar, namun harus Ibu ketahui bahwa tidak setiap keputusan Ibu yang berkaitan dengan Mawar selalu baik buat Mawar. Seperti hubungan Mawar dengan Noki, memang Ibulah yang paling tidak setuju karena berbagai pertimbangan……..

NYONYA SUMIRAH :      Cukup ! Sekali Ibu tidak setuju selamanya tidak setuju. Bisa dimengerti. Ibu tidak ingin mengulang yang kedua kalinya. Lihat kehidupan kakakmu sekarang. Ini semua gara-gara menikah terlalu muda. Seandainya tidak terjadi “kecelakaan” itu tentu Ibu tidak mau menikahkan. Dan sekarang lihatlah siapa yang membelikan susu  dan keperluan ponakanmu yang masih bayi itu. Bukan dia kan ?

MAWAR                      :      Bagaimana Ayah ?

NYONYA SUMIRAH :      ( Begitu TUAN SUNAN hendak menjawab NYONYA SUMIRAH memotong ). Semua masalah anak-anak Ibulah yang bertanggung jawab. Semua yang memutuskan Ibu. Tidak boleh ada yang membantah keputusan Ibu. Kalau Ibu sudah memutuskan, tentu demi kebahagiaan anak-anak. Kebaikan Ibu dan masa depan kalian. Demi nama baik keluarga.

NOKI                            :     Maaf Ibu. Mengenai hubungan kami. Rasanya tidak sesederhana yang Ibu bayangkan. Permasalahan kami pelik. Dan kami tidak mau putus hanya karena paksaan orangtua.

NYONYA SUMIRAH :      Di sini Anda tamu. Harap itu dimengerti.

MAWAR                      :      Ibu harus mengerti permasalahan kami. Terus terang selama ini kami merahasiakan hubungan kami yang sebenarnya. Sekarang saatnyalah kami harus berterus terang. Sebelumnya kami minta maaf sama Ayah dan Ibu. Sebenarnya kami telah menikah.

NYONYA SUMIRAH :      Apa ! Nggak salah Ibu dengar !

MAWAR                      :      Tidak Ibu. Sejak di semester satu, saat itu pula kami sepakat untuk menikah secara siri, tanpa memberitahu Ayah Ibu.

NYONYA SUMIRAH :      Itu tidak sah. Kami tak ada yang dilibatkan. Itu tidak sah.

NOKI                           :      Masalahnya bukannya sah atau tidak sah menurut Ibu. Tapi kami telah berjanji di hadapan Allah, terlebih ada saksinya pula.

NYONYA SUMIRAH :      Ibu tidak meminta pendapatmu.

MAWAR                      :      Noki benar Ibu. Ibu tidak boleh keras seperti ini. Ini menyangkut masa depan Mawar.

NYONYA SUMIRAH :      Ibu tahu apa yang terbaik untuk anak-anakku.

MAWAR                      :      Lalu Ibu tetap ingin menjodohkan Mawar dengan Ajiz. Apa Ibu tahu apakah Ajiz bisa menerima apa adanya diriku. Mawar sudah tidak seperti dulu lagi. Ibu harus paham itu.

NYONYA SUMIRAH :      Maksudmu ? ( MAWAR mulai terisak ).

NOKI                           :      Kami kira Ibu sudah dapat memahaminya apa artinya pernikahan. Kami adalah suami istri.

NYONYA SUMIRAH :      Jadi kalian telah melakukan ………….

NOKI                           :      Ya. Karena kami suami istri dan hal itu sudah sah.

NYONYA SUMIRAH :      Kurang ajar kamu Noki. Berani-beraninya menjamah anakku.

NOKI                           :      Kami sudah suami istri Ibu.

NYONYA SUMIRAH :      Meski begitu kalian tetap putus. Putus. Berani-beraninya kau menodai anakku. Pastilah semua itu karena akal muslihatmu saja. Akal bulusmu saja. Kau menipu anakku dengan bujuk rayu gombalmu itu. Kau kira aku tidak tahu sejarah keluargamu. Kau kira siapa sebenarnya Ibumu. Siapa Ayahmu. Makanya sejak dulu aku tidak setuju hubungan kalian. Jadi benar kan kata pepatah anak tidak jauh dari orang tua. Tabiat orangtua akan menurun ke anaknya.

NOKI                            :     Ibu bicara apa. Sebagai orangtua bicaralah yang baik.

TUAN SUNAN            :      Sebaiknya kita bicarakan nanti saja. Biar mereka istirahat dulu. Biar pikiran tenang. Semua masalah dapat dipecahkan dengan jernih.

NYONYA SUMIRAH :      Tidak bisa. Sudah tidak usah ikut campur urusan ini. Biar aku atasi sendiri. Ketahuilah anak muda, Ibumu dulu seorang pelacur, aku tahu persis. Dan Ayahmu seorang mantan preman yang kerjanya merampok. Seorang bajingan. Kalian berasal dari keluarga rusak.

NOKI                           :      Ketahuilah Ibu, bahwa sebelum Mawar berhubungan dengan diriku, dia pernah diperkosa, siapa yang memperkosa, tak lain dan tak bukan menantu Ibu sendiri, Umar. Bagaimana mungkin kakak ipar memperkosa adik istri sendiri. Jadi dalam keluarga Ibu juga mengalir darah bajingan bukan.

NYONYA SUMIRAH :      Bicaramu yang benar. ( Terdiam sejenak ). Mawar, apa benar cerita Noki. ( MAWAR mengangguk dan kembali menangis lagi ). Rusak semuanya. ( Marah pada TUAN SUNAN ). Ini gara-gara kamu tidak bisa memimpin keluarga. Peran apa sebenarnya yang sedang kau lakukan. Kepala keluarga, bukan.

TUAN SUNAN            :      Katanya kamu sudah bisa mengatasi semuanya. Jangan salahkan aku. Salahkan dirimu sendiri yang keras kepala. Suka memaksakan kehendak.

NYONYA SUMIRAH :      Mawar ! Katakan semua cerita ini tidak benar. Mawar ! Katakan semua ini tidak benar. Tidak benar kan !

MAWAR                      :      ( Menangis tersedu-sedu ). Maafkan Mawar. Maafkan Ibu. Maafkan Ayah. Maafkan. Semua itu benar. Semua itu benar.

TUAN SUNAN            :      Sebaiknya sekarang kita cari jalan keluar terbaik bagi mereka berdua. Jangan sampai merusak masa depan mereka.

NYONYA SUMIRAH :      Jalan terbaik adalah Mawar putus dengan Noki. Titik.

MAWAR                      :      Ibu mau membunuh diriku perlahan.

NYONYA SUMIRAH :      Rusak semuanya ! Rusak ! Siapa yang kamu anut selama ini. Siapa Mawar. Sehingga dirimu begitu hina. Semua ini pastilah gara-gara kamu Noki. Sekarang keluar dari rumahku. Aku tidak sudi punya menantu sepertimu.

NOKI                          :       Baik Ibu. Tapi ketahuilah semua masalah ini yang menyebabkan Ibu sendiri. Kalau Ibu benar bisa mendidik anak-anak Ibu tak mungkin akan terjadi seperti ini. Kekakuan pikiran Ibu dan mau menangnya sendirilah yang menyebabkan ini semua. Benar kata Ayah, semua ini karena kehendak berkuasa Ibu yang berlebihan terhadap semua isi rumah ini.

NYONYA SUMIRAH :      Keluar dari rumah ini ! Tahu apa kamu tentang kehidupan. Keluar ! Keluar !

NOKI                            :     Baiklah ! Ketahui bahwa Mawar kini tengah mengandung anakku.

NYONYA SUMIRAH :      Kurang ajar ! Keluar ! Keluar !

( NOKI eksit. Lampu perlahan meredup hingga gelap, diiringi kesedihan yang menusuk-nusuk. Mereka terdiam seperti patung hendak runtuh ).

6

( Di ruang makan, meja makan memanjang. NYONYA SUMIRAH duduk di kursi yang mengesankan bahwa dia pemimpin keluarga. Di kelilingi MAMA, PAPA, MAWAR, EYANG KAKUNG dan TUAN SUNAN. IJAH sibuk menyiapkan hidangan makan malam. Suasana agak tegang saling curiga dengan pandangan mata yang ganjil dan mengancam. Sambil mulai makan ).

NYONYA SUMIRAH :      Di rumah ini aku rasa sudah tidak tentram lagi. Tingkah laku kalian sudah keterlaluan. Ibu juga tidak tahu siapa yang mencuri perhiasan Ibu. Ibu sudah mencarinya tidak ketemu juga. Berarti  ada  maling  di  rumah  ini. Apa  mungkin  Ijah  yang  mengambil. ( Terdiam semua ). Umar ! Jadi benar kau telah melakukan pada Mawar ? ( PAPA hanya diam saja, menunduk ).

MAMA                        :       Kau benar-benar tak tahu malu. Kau berani melakukan pada adiku sendiri. Kau mengkhianati perkawinan kita. Dasar mata keranjang.

EYANG KAKUNG    :       Oh gadisku. Baju merah, wajah cerah. ( Pada MAWAR ). Kekasihku  pujaan  hatiku. ( Pada PAPA  yang duduk di sebelahnya ). Tolong sampaikan salamku padanya. Tolong. Nanti tak kasih hadiah. Sampaikan salamku padanya ya. Ini namanya cinta pada pandangan pertama. Siapa namanya ? Aku belum kenal. Baru hari ini aku melihatnya. ( PAPA hanya diam saja dan sesekali menganggukkan kepala. EYANG KAKUNG kemudian menyanyi dan mendekati MAWAR ).

Abang-abang gendero londo.

Klambi abang nggo tondo moto.

MAWAR                      :      Kung ! Ingat ! Aku  Mawar, Kung. Cucu  Kakung.  Kung !  Ingat ! ( EYANG KAKUNG  terus merayu ).

NYONYA SUMIRAH :      Kakung ingat Kung. Maemnya dihabiskan dulu. Ijah !  Ijah !

EYANG KAKUNG      :     Oh  gendero londoku. Oh  klambi abangku. Oh  matahariku. Oh  kekasihku. Oh  menor-menorku.

IJAH                             :      Kung ! Klambi abang Kakung di dalam kamar. Ayo kita ambil. Di dalam kamar.  Ayo  ke  sana.  Ada  di  dalam. Menunggu  Kakung. ( EYANG KAKUNG menurut sambil ngomel klambi abang ).

NYONYA SUMIRAH :      Jadi Ibu tidak tahu bagaimana lagi kita harus menegakkan martabat keluarga. Apa dari dulu hingga kini keluarga kita harus menjadi jelaga dalam sejarah. Tidak bisa menampilkan trah keluarga yang bisa dibanggakan. Dua anakku rasanya juga mengalami nasib yang tidak enak juga. Lastri, rupanya terlalu dini menikah, kau salah memilih suami, memang dulu, Umar, kelihatan baik, tapi apa yang diperbuat pada Mawar adalah malapetaka keluarga, noda hitam yang tak akan terhapus. Dan kau Mawar juga mengambil langkah yang salah dalam cara bergaul, kau ulangi kesalahan yang dilakukan kakakmu, dan kini kau hamil. Ayahmu sendiri tidak mampu memimpin keluarga. Justru mata keranjangnya makin menjadi-jadi. Hidup di rumah ini rasanya asing. Semua penghuni tidak ada yang saling mempercayai. Semua asing.

TUAN SUNAN            :      Tentu saja karena ingin saling menang sendiri.

MAWAR                      :      Ada yang ingin memaksakan kehendak sendiri.

MAMA                         :      Kapal ini sudah karam. Nama keluarga sudah tercoreng. Untuk apa dipertahankan.

NYONYA SUMIRAH :      Ibu melakukan itu semua karena ingin menyelamatkan keluarga.

TUAN SUNAN            :      Tabiatmu itulah yang menghancurkan semua ini. Kehendak berkuasa berlebihan itulah sumber malapetaka. Mulanya tidak dirasakan tapi dampak dari kepemimpinanmu yang otoriter, anak-anak jadi korban. Biduk keluarga pecah. Ingin bebas sendiri-sendiri. Sesuai keinginan masing-masing. Tanpa tahu jalan yang ditempuh benar apa salah. Semua salah kaprah. Tak ada kebaikan yang muncul dari jiwa yang bersih, karena dalam diri dan kalbu kita sudah dikotori perasaan-perasaan tidak senang dan ingin menang sendiri. Ingin berkuasa sendiri.

NYONYA SUMIRAH :      Apa yang kau tahu dengan kepemimpinan.

TUAN SUNAN            :      Pikiranmu itulah yang menyesatkan dirimu. Tidak mau mendegarkan pendapat orang lain. Tidak mau mempercayai orang lain. Seolah dirimu adalah pusat kebenaran. Padahal kebenaran jauh dari jangkauan tanganmu. Karena kebenaran dalam hidup hanyalah mengarah pada kebaikan kita semua. Kebaikan yang bersumber pada moral dan agama. Kebaikan yang membuat diri kita tidak berdaya di hadapan Allah. Tidak sebaliknya, membuat diri kita angkuh, keras, tidak mau dikritik dan sewenang-wenang. Itu semua hanya membuat diri kita rendah di mata Allah. Rendah di mata keluarga. Rendah di mata masyarakat. Tunjukkan kebaikan dirimu dengan bercermin dengan luka-luka masa lalu. Masa lalu adalah cermin untuk masa depan. Semua ini salah kita. Karena kita tidak saling percaya pada anggota keluarga sendiri. Sekarang terserah. Kalau Ibu masih ingin memimpin keluarga ini. Atau ingin mundur. Silahkan. Yang penting ciptakan kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga. Jangan hanya mempertahankan keinginan-keinginan yang semu saja. Hadapi kenyataan dengan lapang dada. Dan ambil jalan keluar yang tepat. Kalau Mawar kini sudah hamil sama Noki apa mungkin kita biarkan bayi itu tidak berayah.

EYANG KAKUNG     :      ( Keluar membawa senapan ). Angkat tangan semua. Buka topi. Topinya dibuka. ( Semua angkat tangan karena kaget ). Ha ha ha ha ha. Si Penguasa akhirnya menyerah juga. Aku menang. Aku menang. Aku menang. ( Pada IJAH ). Siap grak. Lapor komandan. Pasukan sudah menyerah. Mereka mengaku kalah. Mereka membuka topi. Tanda kalah. Kalah komandan. Kita menang. Kita menang. Mereka kalah. Hidup perjuangan. Hidup perjuangan. Merdeka. Merdeka. Hidup kita menang. Hidup kita menang. Hidup mereka kalah. Hidup mereka kalah. Mereka kalah. Mereka kalah. Mereka menyerah. Mereka menyerah dalam hidup. Kita menang dalam hidup.

IJAH                              :     Pasukan !

EYANG KAKUNG      :     Siap !

IJAH                              :     Balik kanan ! Grak ! Maju jalan. Satu. Dua. Tiga. Satu. Dua. Tiga. Belok kiri. Grak. Satu. Dua. Tiga.

( EYANG KAKUNG dan IJAH masuk kamar. Eksit. Yang lagi terdiam dalam kebisuan yang memuncak, terpikirkan atas nasib hidupnya masing-masing. Merefleksi diri. Jalan apa yang harus ditempuh ).

7

( Seperti adegan pertama. NYONYA SUMIRAH dan TUAN SUNAN  menghadap layar kaca masing-masing, menghadap penonton, sementara meja dan kursi sofa ada di belakang. Larut malam. Ada suara kentongan bertalu-talu. Mereka asyik menonton tv sendiri-sendiri, sesekali berganti ke chanel lain. Wajah mereka dingin, diam, seolah sedang memikirkan sesuatu, sorot matanya kosong, tak peduli pada sekitar, tak peduli pada yang lain. Seorang pencuri masuk dengan baju ninja, turun dari atas dengan tali yang mengelantung, turun perlahan dengan tenang, membuka almari, mengambil barang, masuk kamar NYONYA SUMIRAH, mengambil barang, perhiasan dan uang, kembali, tertarik pada jam tangan yang tergeletak di meja dekat sofa ).

EYANG KAKUNG     :      ( Dari pintu ). Angkat tangan. ( Maling kaget bukan main, mengangkat tangan, meletakkan barang curian ). Buka topi ! Buka topi ! ( Maling membuka kerudung, wajahnya terlihat. Sementara itu TUAN SUNAN dan NYONYA SUMIRAH cuek saja pada apa yang terjadi. Mereka sudah muak dengan kelakuan EYANG KAKUNG yang selalu mengganggu hidup mereka ). Jangan bergerak ! Aku tembak ! Angkat tangan !

PAPA                            :     ( Menyanyi Tul Jaenak, disambut EYANG KAKUNG yang gembira bukan main mendengar lagu kesukaannya. Mereka sambil menari berputar-putar dengan kebahagiaan tersendiri. PAPA  melepaskan semua baju hitamnya. Tiba-tiba muncul IJAH dengan pakaian minim, seronok, mengundang birahi. Ikut menari, mula-mula menari bersama EYANG KAKUNG. Kemudian menari bersama PAPA. Saling bergandeng tangan. PAPA dan IJAH menari mesra sekali. PAPA memberikan kantung berisi perhiasan, hasil curian, lalu membelai rambut IJAH. IJAH senang dengan pemberian itu, lalu mencium tangan PAPA ).

Tul jaenak

Jare jatul jaeji

Kuntul jare banyak

Ndoke bajul kari siji

Abang-abang gendero londo

Wetan sitik kuburan mayit

Klambi abang nggo tondo moto

Wedak pupur nggo golek dhuwit

( NYONYA SUMIRAH dan TUAN SUNAN cuek bukan main. Perlahan dan pasti mereka mengeraskan suara tv, sehingga suara nyanyian EYANG KAKUNG, PAPA dan IJAH perlahan hilang, tak terdengar meski penampakan mereka masih menari-nari. Seolah menggoda kehidupan. Lampu mulai meredup perlahan hingga hitam kelam. Tinggal suara televisi yang makin mengeras, berisik tak terusik, silih berganti, tak jelas suara apa yang terdengar, sahut menyahut, melambung-lambung, kering di telinga. Sampai puncaknya, tiba-tiba suara itu mati, seolah ada chanel yang terputus ).

***

S  E  L  E  S  A  I

Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s