lakon wanita yang diselamatkan

Posted: Mei 8, 2010 in drama, indonesian language, naskah drama, pelajaran, Uncategorized

WANITA YANG

DISELAMATKAN

Karya : Arthur S.Nalan

Para Pemain :

-Juned ( Sang Pembelot )

-Jamilah ( Isteri Juned )

-Barjah ( Sahabat Juned )

-Malim ( Pemimpin Panguyuban Salim )

-Umi ( Isteri Malim )

-Abuy ( Anak Isteri Juned & Jamilah )

-Pak Duluk

-Germo

-Polisi Hutan

-Para Anggota Panguyuban

I.

JUNED :

Aku bosan Ilah, aku jenuh! Bayangkan hampir setiap hari aku harus siap dipanggil Malim dan melakukan tugas-tugas yang bertentangan dengan nuraniku. 3 tahun yang lalu, aku telah keluar dari penjara dan kini bertekad ingin menjadi orang baik-baik. Aku berkenalan dengan Barjah, aku kembali menemukan kau dan tanpa aku duga kini kau menjadi isteriku.

( MINUM ) Kalau bukan karena Barjah, kalau bukan karena Malim, mungkin aku tak akan pernah memilikimu.

JAMILAH :

Bosan dan jenuh itu biasa. Memang bahagia harus selalu diikuti dengan pengorbanan. Kalau kau bicara tentang kebosanan, kita semua selalu mengalaminya, kita semua merasakannya. Yang penting sekarang, bagaimana kita membesarkan anak kita, supaya menjadi anak yang pintar dan soleh.

JUNED :

Ya, aku tahu itu. Itu juga membosankan. Kata-kata itu sering aku dengar dari Kakek, Nenek, orang tua kita, selalu diulang. Orang tua selalu berharap anak-anaknya itu menjadi anak yang pintar dan soleh. Kita juga jadi ikut-ikutan begitu pada anak kita.

JAMILAH :

Tentu saja, apa ada orang tua yang mengharapkan anak-anaknya masuk penjara, menderita?!

JUNED :

Apa kita bisa membahagiakan Abuy, dengan keadaan kita yang selalu begini ini, dengan keadaanku yang selalu terikat baiat Kang Malim, yang terikat sumpah setia pada Panguyuban?! Apa bisa Ilah, apa bisa?!

JAMILAH :

Aku tidak tahu, kita memang sudah kadung dan terbawa arus mereka. Tak usah disesalkan, terima saja sebagai kenyataan pahit.

JUNED :

Terus-terusan pahit dan kepahitan yang aku alami, manisnya hidup hanya sempat kita jilat, hanya sempat kita cicipi …….

JAMILAH :

Sudahlah, tak ada gunanya kita berpanjang-panjangan begini, bercerita tentang kepahitan hidup, kebosanan, kalau aku …. Kalau aku hanya dapat bersyukur, lain tidak. Bayangkan seandainya aku tidak kau bebaskan, dengan bantuan Barjah serta pasukan lowo irengnya, dari cengkraman mamih Rawit, bayangkan kalau aku tidak ditemukan disana, mungkin kita masing-masing berjalan ditempat yang berbeda ….. tapi Tuhan telah mengatur kita bertemu kembali ….. kita dipersatukannya.

JUNED :

Sudahlah aku bosan mengingat masa lalu, kau tahu …… sebenarnya masa lalu ingin ku kubur dalam-dalam.

JAMILAH :

Tidak mungkin masa lalu dikubur begitu saja, sekarang tindakan apa yang akan diambil?!

JUNED :

Tindakan apa yang harus aku ambil?!

JAMILAH :

Ya, tindakan apa. Bukankah sebenarnya dari tadi kita tengah bicara tentang tindakan-tindakan apa yang harus diambil untuk melarikan diri dari kejenuhan dan kebosanan yang mengepung kita?!

JUNED :

Kau benar Ilah. Aku harus keluar dari lingkaran mereka. Sekarang aku sadar, rasanya janggal harus mengumpulkan dana perjuangan dengan jalan mencuri dan menggarong,

pada awalnya aku kagum dengan mereka, tapi lama kelamaan aku muak, perjuangan macam apa ini?!

( SUARA KETUKAN PINTU )

Siapa?!

BARJAH :

Aku Ki sobat!

JUNED :

Ilah bukakan pintu!

JAMILAH:

Masuk Kang Barjah …… sendirian saja?!

BARJAH : ( MASUK )

Ya ….. Assalamualaikum.

JAMILAH :

Waalaikum salam.

JUNED :

Alaikum salam ….. Silahkan duduk, Jah …..

( KEPADA JUMILAH )

Buatkan kopi, Lah …..

BARJAH :

Sabil!

JUNED :

Sabil!

BARJAH :

Aku bawa tugas dari Salim!

( MEMBERIKAN SURAT )

Anakmu mana tidak kelihatan?!

JUNED :

Mengaji di Tajug!

JAMILAH :

Kopinya …… Bagaimana kabarnya Ceu Mae?!

BARJAH :

Sehat-sehat saja.

( KEPADA JUNED )

Bagaimana?!

JUNED ( DIAM )

JAMILAH :

Kang Juned sebenarnya lagi kurang enak badan.

BARJAH : ( TERTAWA )

Sejak kapan kau kolokan, hah?! Ingat, hanya kau yang dipercaya Malim untuk memimpin tugas ini. Hanya kau yang tahu situasinya. Bukankah dulu kau pernah kerja di pabrik gula tersebut?!

JUNED :

Ya, dulu. Bagaimana ya, aku benar-benar lagi kurang enak badan.

BARJAH :

Kau menolak.

JUNED :

Tidak, aku tidak menolak.

BARJAH :

Ingat target dana harus terpenuhi, jika tidak, perjuangan perang Sabil kita ini tidak akan terwujud.

JUNED :

Ilah, ambilkan peti besi yang ada dikolong ranjang ….

( KEPADA BARJAH )

Sekarang aku mau tanya padamu.

BARJAH :

Tanya apa?! Ayo tidak usah ragu-ragu. Aku kan sobatmu!

JUNED :

Apakah kau pernah berpikir …… kau yakin perjuangan perang Sabil ini akan terwujud?!

BARJAH : ( TERTAWA )

Kau ragu?!

JAMILAH : ( MENARUH PETI )

Aku beli obat nyamuk dulu ke luar.

( PERGI )

JUNED :

Aku tidak ragu …… tapi aku berpikir. ( MEMBUKA PETI BESI )

Kau lihat siapa dia?! ( MEMPERLIHATKAN FOTO KARTOSUWIRYO )

Malim suka menyebutnya, “Sang Mata Air, Sang Pencetus Perang Sabil …”. Tapi kenyataannya, Sang Mata Air itu dikubur!

BARJAH : ( TERTAWA )

Jun, pencetus itu boleh mati ….. perintis boleh terkubur ….tapi pewaris harus bangkit! Kita adalah pewaris perjuangan perang Sabil ( MEMBERIKAN PISTOL YANG DIAMBIL DARI DALAM PETI BESI ). Buktikan bahwa kita adalah pewaris perjuangan perang Sabil dengan senjata ini, kau bisa katakan pada mereka bahwa pewaris perjuangan perang Sabil yang tak akan pernah usai ( MINUM KOPI ). Kau tentu masih ingat peristiwa sarang pelacuran Kamalaten, ketika aku dan saudara-saudara para pewaris perjuangan perang Sabil itu …… tergabung dalam pasukan Lowo Ireng dan kau ada didalamnya sebagai saksi mata … kau saksikan kita beraksi dengan satu gebrak …. Para centeng-centeng dan begundal-begundal mesum itu lintang pukang … terlebih-lebih Gemonya yang gemuk itu …. Sampai basah kain sampingnya.

( TERTAWA )

Karena ada baking-nya yang over-acting …. Lalu kita telikung sampai giung dan kita bakar tempat maksiat itu …. Aku puas! ( TERTAWA ).

LALU DI MARKAS Pangguyuban kita nyanyikan lagi perjuangan ( BERNYANYI ).

Berjuang dijalan Sabil, senjata ditangan, pandangan ke depan demi Sang Malim!

JUNED : ( KESAL )

Sudah, Jah …. Sudah! Kau tak perlu ceritakan peristiwa itu lagi! Kau memang banyak berjasa untukku.

BARJAH :

Jun, aku sengaja ceritakan kembali peristiwa itu agar kau sadar bahwa kita ini adalah pewaris perjuangan perang Sabil …. Termasuk kau.

JUNED :

Tapi, Jah … ada perasaan berdosa yang selalu aku rasakan disini. Di dalam hati kecilku. Apakah hanya untuk membebaskan seorang pelacur dari seorang Germo lantas harus membakar sarang pelacuran itu?! Disana kan banyak juga orang-orang yang tak berdosa, orang-orang yang tak tahu apa-apa dan tidak berkepentingan dengan urusan pribadiku …. Mereka ikut terbakar, mereka menjadi korbanmu dan pasukanmu!

BARJAH :

Jun, tadinya aku tidak bermaksud membakar tempat itu … tapi baking-nya yang over acting itu membuat aku muak …. Darahku panas dan akhirnya kubakar tempat itu …. Tapi suadahlah mengapa kita jadi berbincang tak karuan ….. pada hal kita harus menyelesaikan tugas kita …. Ayo berkemas dan biarkan ojegmu nganggur untuk beberapa hari, bagaimana?! ( MINUM KOPI LALU MEROKOK ).

JAMILAH : ( MASUK )

Mau diajak ke mana lagi?!

BARJAH :

Biasa panggilan tugas ronda.

JUNED :

Jah.

BARJAH :

Ya, ada apa?!

JUNED : ( MELETAKAN PISTOL DIATAS MEJA )

Aku mau mundur saja.

BARJAH :

Mundur, tidak mungkin, kau tidak mungkin bisa mundur, kau sudah dibaiat, jangan sekali-kali berpfikir bahwa baiat itu hanya basa-basi …. Kalau kau mengatakannya di depan Malim kau tahu apa akibatnya, bukan?!

JUNED :

Aku jenuh, aku bosan, Jah … bosan! 15 tahun aku menjadi penghuni penjara dan aku berniat kembali ke kehidupanku semula, kembali ke desa dan menjadi petani. Menjadi manusia baik-baik walau aku masih ragu ….. apakah orang-orang sedesaku aku akan menerima kehadiranku …. Bekas pembunuh!

JAMILAH :

Jangan kau ceritakan lagi peristiwa itu, Kang.

JUNED :

Biar Barjah tahu. Aku bertemu dengan kau karena aku menumpang mobil tangki yang kau bawa. Kita menjadi akrab, lalu kau membawa aku ke komplek pelacuran Kamalaten dan semua niatku berubah disana.

BARJAH :

Kalau kau tidak ragu-ragu, mengapa niatmu menjadi berubah?! Mengapa?!

JUNED :

Jah, kau tahu kan, pertemuan dengan dia tak pernah kubayangkan sebelumnya?!  Aku membayangkan Jamilah sudah menjadi milik orang lain dan kisah cintaku dengan Jamilah hanya masa lalu, tapi ditempat itu kami dipertemukan Tuhan …. Semua berubah, aku ingin menyambung kisah cinta kami dank au bersedia membantu.

BARJAH :

Bantuanku sudah kau rasakan sekarang, lantas kau enak saja mengatakan akan mundur dari Panguyuban yang telah mengulurkan tangan untuk membebaskan Jamilah dari cengkraman Germo dan baking-nya. Inget Jun, tanpa bantuan Panguyuban kau tak akan pernah bisa memiliki Jamilah, kalau pun bisa, yang duluan melayang adalah nyawamu. Kau paham itu?!

JUNED :

Waktu itu aku tak pernah berpikir bahwa Panguyuban yang mengulurkan tangannya padaku ditebus dengan perbuatan-perbuatan kotor dikemudian hari.

BARJAH :

Tutup mulutmu, Jun! Lebih baik kita pergi secepatnya. Tentang kau yang mau mengundurkan diri, itu bukan urusanku! Aku tidak mau berbantahan disini, tak baik, tak bagus!

JUNED :

EEeee’ …. Kalau aku menolak?

BARJAH :

Aku akan memaksamu! ( MENGELUARKAN PISTOL ).

JAMILAH :

Sudah! Jangan teruskan perbuatan gila ini disini! Silahkan pergi ke hutan dan salinglah membunuh disana! Untung rumah kita agak terpencil ….. kalau tidak, para tetangga akan berdatangan. Sudah, pergi saja kalian …… pergi …. !!!

JUNED :

Kita pergi saja, Jah …… ( MEMASUKAN PISTOLNYA KEMBALI ).

BARJAH : ( TERTAWA )

Nah, begitu. Maafkan aku.

( MEREKA BERPELUKAN ).

JUNED : Aku pergi dulu. Jaga Abuy.

BARJAH : Maafkan aku ( MENGELUARKAN BEBERAPA LEMBAR UANG )

Ini dari Panguyuban untuk anakmu, jangan sedih …….. aku pun pernah merasa goncang seperti suamimu.

JUNED : ( MENGAMBIL MOTOR )

Ayo, Jah ….. simpan peti itu baik-baik ditempatnya. ( MENGELUARKAN MOTOR ).

BARJAH :

Kami pergi dulu, Jah …….. Assalamualaikum’!

JAMILAH :

Walaikum salam.

( SUARA MOTOR HIDUP, DAN PERLAHAN-LAHAN MENGHILANG ).

LAMPU PADAM.

II.

MARKAS PANGUYUBAN. MALIM DAN UMI TENGAH BERTENGKAR.

UMI :

Aku bosan hidup begini terus-terusan, tak ada rasa tentram. Tak ada kedamaian. Padahal tentram dan kedamaian itu penting.

MALIM :

Penting menurutmu, tidak menurutku. Mau tentram bagaimana kalau hidup kita selalu dijegal orang?! Aku pernah coba seluruh yang kau pinta, tapi hasilnya semua sia-sia.

UMI :

Itu karena kau tidak sabaran, kau terlalu ambisius. Kau selalu ingin mengambil jalan pintas, potong kompas dalam segala hal.

MALIM :

Umi, jangan berkata begitu, kalau aku sukses, kau juga yang akan menikmatinya, kau juga yang akan memujiku. Sudah berkali-kali aku katakana, kalau kau sudah tidak betah hidup denganku, silahkan tinggalkan aku ……. Hanya ingat, aku tidak akan menceraikanmu ……. Itu tidak baik.

UMI :

Aku tidak akan meninggalkanmu, tidak. Aku mau pregi kemana?! Anak tak punya, sanak saudara sudah menjauh.

MALIM :

Kalau sudah tahu begitu, kenapa kau selalu berbicara tak tentram, ingin damai, bosan dengan kehidupan yang terus-terusan seperti ini?! Kenapa?!

UMI :

Aku ksepian, aku inginkan seorang anak ……!

MALIM :

Aku juga ingin, walau pun kau sudah berkali-kali hamil namun selalu keguguran …… apakah karena ……

UMI :

Mungkin karena kita sering berpindah-pindah tempat tinggal, apa tidak bisa kita menetap di sebuah tempat dan tak berpindah-pindah?! Apa tidak bisa?!

MALIM :

Tidak bisa. Perjuanganku menuntut harus berpindah-pindah tempat, jika tidak, sudah lama aku ditangkap karena akulah yang menyalakan api perjuangan Sabil dihati para anggota Pangguyuban.

UMI :

Tetapi mengapa orang macam Barjah, Juned, bisa menetap disuatu tempat?!

MALIM :

Mereka adalah mata dan telingaku untuk menjangkau dunia ramai. Mereka tak akan dicurigai karena mereka hidup seperti orang kebanyakan pada umumnya. Juned jadi tukang ojek, sedangkan Barjah menjadi supir truk tangki. Dan yang terpenting adalah isteri-isteri mereka setia menyimpan rahasia suaminya.

UMI :

Pada hal dulu kita adalah pasangan yang tak pernah bertengkar dan berbantahan. Kau ingat saat kau mencalonkan diri untuk menjadi Kepala Desa?! Pendukungmu banyak karena mereka tahu bahwa kau anak seorang Kiai, anjengan terhormat dan diseggani pemimpin sebuah Pesantren. Kau begitu yakin akan menang dan dielu-elukan oleh warga desa.

MALIM :

Tapi kelicikan dan uang mencekik mereka, membungkam mereka. Mereka menipu aku dan pada akhirnya aku kalah. Aku mundur.

UMI :

Lalu kau menjadi pengurus koperasi desa karena dipandang dapat membantu desa menghimpun anggota masyarakat untuk menjadi anggota koperasi, kau punya pengaruh.

MALIM :

Ya, tapi aku diisukan macam-macam, menyalah gunakan jabatanlah, makan uang kas-lah. Padahal Kepala Desa bajingan itulah yang mengambilnya.Untuk kedua kalinya dijegal ….. dan pada akhirnya aku dendam.

UMI :

Memang sulit hidup diatas kejujuran, kejujuran sepertinya mahal.

MALIM :

Karena itu aku harus menghentikan aksi Kepala Desa bajingan itu, aku labrak dia tapi aku kalah. Begundal-begundalnya terlalu kuat, aku pulang babak belur namun dendamku semakin memuncak hingga akirnya kubalas dia dalam suatu kesempatan mobil yang ia yumpangi kucegat dan kubakar, lalu kulemparkan kejurang ( TERTAWA ). Aku puas bajingan itu telah mati!

UMI :

Tetapi kita menjadi menderita ….. bahkan tambah menderita! Kita jadi buronan …….

MALIM :

Sudahlah, buronan tinggal buronan, yang penting sekarang perjuangan Sabil harus ditegakkan. Kita sudah punya pengikut, pasukan khusus orang-orang yang setia, mau apa lagi?!

UMI :

Tapi hati ini tidak bisa dibohongi.

MALIM :

Simpan saja itu hati yang tidak bisa dibohongi, kita ganti dengan kebencian.

UMI :

Kalau Mama Kiai Fadillah mertuaku tercinta, Ayahmu tercinta masih hidup ……..

MALIM :

Sudahlah Umi, jangan sebut-sebut Ayahku, dia terlalu bail buat kita, juga buat Santri-santrinya, biarlah kita pilih jalan kita sendiri.

GOJAL :

Assalamualaikum ……….

KEWENG :

Assalamualaikum ………..

GOJAL DAN KEWENG MASUK, MEREKA MENCIUM TANGAN MALIM.

MALIM :

Ada apa, kenapa sudah kembali?!

GOJAL :

Maaf Malim, terpaksa kami kembali. Si Paser ngamuk dan menembaki beberapa orang!

MALIM :

Juned?

KEWENG :

Ya Malim, ia marah dan menyambar senjata tanpa diduga, kami berhasil lari …….

MALIM :

Barjah?!

GOJAL :

Barjah terluka dan disandara!

MALIM :

Dimana mereka sekarang?!

KEWENG :

Kejadiannya disekitar hutan Argagowong. Pasti dia naik keatas bukit dan mencari perlndungan.

BARJAH :

Dia akan mengulang kelakuan Kumlud, mahasiswa Frustasi yang pernah bergabung dengan kita itu. Terpaksa kita harus segera bergerak. KaliaN ke rumah Barjah, temui istrinya suruh bujuk istrinya Juned, kalian bawa ke Argagowong. Anggota Paguyuban yang ada dikantung-kantung segera kontak, semua berngkat ke Argagowong. Hati-hati, waspada polisi hutan bisa menemukan kita.

KEWENG :

Anaknya Juned bagaimana?!

MALIM :

Bawa juga, siapa tahu ada gunanya.

UMI :

Jangan bawa anak itu, biarkan aku yang mengasuhnya.

MALIM :

Kau jangan ikut campur, anak itu harus menyaksikannya. Ayo segera berangkat.

BERSAMA :

Sabil!

MALIM :

Sabil! (MEREKA HENDAK BERANGKAT)

UMI :

Berikan anak itu padaku, aku minta dengan hormat.

MALIM :

Kita lihat saja nanti. (MALIN MENGAMBIL SEBUAH PISTOL DAN MEMASANGKAN PELURUNYA)

LAMPU PERLAHAN PADAM.

TERDENGAR PUPUJIAN.

Anak Adam anjeun di dunya ngumbara

Hirup anjeun di dunya the moal lila

Umur anjeun unggal poe dikurangan

Berang peting umur anjeun dicintangan.

( Anak Adam engkau di dunia mengembara

Hidup di dunia tak akan lama

Tiap hari umurmu dikurangi

Siang malam umurmu selalu diambil sedikit-sedikit ).

III

RUMAH JAGA POLISI HUTAN ARGAGOWONG TAMPAK BARJAH TAK BERSENJATA TERLUKA DIKURSI SEMENTARA SEORANG POLISI HUTAN TERIKAT DIRANJANG BAMBU YANG DIBERDIRIKAN. TAMPAK JUNED TENGAH MENGINTIP DARI JENDELA.

BARJAH :

Kau akan menyesal, Jun …. percayalah padaku, tindakan yang kau ambil adalah suatu kesalahan besar.

JUNED :

Aku tidak perduli, Jah … Kesalahan besarku bukan tindakan ini, tapi menjadi anggota Pangguyuban ini. Itu kesalahan besarku.

BARJAH :

Sebentar lagi pasukan Lowo Ireng akan datang mengepung tempat ini, akan mati sia-sia.

JUNED :

Akanku lawan selama aku bisa melawan.

BARJAH :

Aku terluka, Jun! Kau tega membiarkan aku kehabisan darah?! Bagaimana kalau kita cari pertolongan.?!

JUNED :

Aku tak akan terbujuk dengan jebakan halusmu, Jah!

BARJAH :

Hei Jun, aku tidak akan membujuk dan menjebakmu ….. kau salah paham!

JUNED :

Aku paham, kau meniupkan bujukan padaku ketika aku melihat kembali Primadona komplek Kamalaten yang bernama Karmila ternyata Jamilah kekasihku sewaktu didesa dulu. Kau bilang, jika kau mau dia kembali serahkan saja padaku. Malim dapat membantumu.

LAMPU PADAM.

IV

PADA SAYAP KANAN PANGGUNG, TAMPAK BARJAH DAN JUNED SEDANG DUDUK BERHADAPAN SAMBIL MINUM BIR. SEORANG GERMO SEDANG BERBICARA MENGGODA. TERDENGAR SUARA MUSIK DANGDUT.

GERMO :

Mau yang keturunan Arab juga ada! ( TERTAWA ).

BARJAH:

Kawanku ini tengkulak beras, ia vingin yang baru dan cantik! ( MINUM ).

GERMO :

Oh ya …. ?! Tentu saja ada, jangan khawatir!

BARJAH :

Siapa namanya?!

GERMO :

Pasti yang kau maksud Karmila ( TERTAWA ).

BARJAH : ( MEMOTONG ).

Jun! ( MEMBERI ISYARAT DENGAN JARINYA ).

GERMO : ( TERTAWA ).

Semua anak asuhku tidak ada yang memakai nama asli, semuanya nama palsu. Apa sih yang tidak palsu disini?! ( MENYEDOT ROKOK ) Tapi Karmila yang kau inginkan sedang di Boking tamu istimewaku.

JUNED :

Siapa?!

GERMO :

Kau tidak perlu sewot, ini rahasia perusahaan (MUNCUL JAMILAH DIIKUTI PAK DULAK ) Nah, kau boleh gembira. Sekarang Karmila sudah keluar ( MEMANGGIL ) Mila ……. Mila kemari sayang …… ada tamu bonafit untukmu!

JAMILAH :

Ada apa, Mih?!

GERMO :

Ada yang penasaran, dia tengkulak beras partai besar!

JAMILAH :

Mana orangnya?! ( MELIHAT JUNED ) Kang Juned?! Tidak mungkin, tidak mungkin! Oh!  ( LARI ).

JUNED :

SEPERTI Jamilah ……  dia Jamilah, Jah! Ilah tunggu ( BERHADAPAN ). Kenapa lari?! Kanapa?! Aku Juned!

GERMO :

Hei hei ….. kenapa jadi begini?! Siapa kau?!

PAK DULAK :

Ada apa rebut-ribut begini?! Hei, siapa kamu?!

JUNED :

Aku kwan lamanya.

BARJAH :

Dia kawanku seorang tengkulak beras partai besar …..!

PAK DULAK :

Oh ya?! Mau pakai dia?! Silahkan ( MENGACUNGKAN JARI JEMPOL ).

JUNED : ( MARAH ).

Haram jadah! ( MENCENGKRAM KERAH BAJU PAK DULAK ).

PAK DULAK : ( MARAH ).

Hei! Kau juga belum tahu siapa aku?!

JUNED :

Dia pacarku sewaktu di desa!

PAK DULAK : ( TERTAWA ).

Pacar?! Di desa?! Yak au benar, semua lelaki pacarnya!

JUNED : ( MENDORONG ).

Anjing!

PAK DULAK : ( TERJEREMBAB ).

Sialan! ( MENGELUARKAN PISTOL ) Kau belum tahu siapa aku ( BANGUN ) aku keamanan sini. Kau terlampau berani melawanku, jangan mentang-mentang kau seorang tengkulak beras partai besar berkantung tebal …….!

BARJAH :

Maafkanlah kawanku Pak …… dia hanya terbakar emosi saja  ( MEMOHON) sebaiknya pistol itu disimpan lagi, terus terang kami takut sekali.

PAK DULAK : ( TERTAWA )Masih untung ada kawanmu yang tahu bagaimana cara menghargaiku. Ayo bubar, tak ada apa-apa, hanya sensasi murahan tengkulak beras ( PADA JUNED ) Masih penasaran?!

BARJAH :

Sudahlah, Pak ….. maklumlah kalau orang kasmaran. Karmila ini bukanlah pacarnya, hanya barang kali mirip.

PAK DULAK :

Bagus itu ( MENYIMPAN PISTOL ). Mih, aku pulang dulu. ( PADA JAMILAH ) Terima kasih, Neng ….. lain kali Bapak kesini lagi. Biasa ngontrol ( TERTAWA ) yang bahenol.

PAK DULAK KELUAR.

GERMO : ( PADA JUNED ).

Masih penasaran?! Kalau masih, silahkan! Hanya kalau disini jangan coba-coba bikin keributan. Masih untung Pak Dulak tidak menarik pelatuk pistolnya, kalau ditarik kan bisa berabe ( TERTAWA ). Ayo karmila, masuk saja dulu, kau perlu istirahat!

JUNED :

Tidak, jangan!

GERMO :

Kau mau boking sebelum main?!

JUNED :

Ya benar. ( PADA PELAYAN ) Bir satu lagi!

GERMO :

Uang bokingnya ( MENGHISAP ROKOK ).

BARJAH :

( MENGELUARKAN UANG ) Ini! Jangan ganggu kami!

GERMO :

Siapa yang mau ganggu padayang kantungnya tebal ( TERTAWA ). Karmila, temani tamumu dengan baik, kalau sudah, naik, masuk saja ke kamarmu.

GERMO PERGI.

JUNED :

Maafkan aku ….. Apakah aku kesemaran?! Tapi rasanya tidak. Kau Ilah ….. Jamilah putera Bah Doyot, kan?! ( MENGAMBIL DOMPET ) lihat fotomu, masih kusimpan dengan baik.

JAMILAH : ( MENANGIS ).

Maafkan aku ….. itu memang benar fotoku.

JUNED :

Bagaimana kalau kau ikut keluar dari sini?! ( PELAYAN DATANG ).

JAMILAH :

Tidak mungkin! Aku telah berhutang budi pada Amih!

JUNED :

Kenapa tidak mungkin?!

BARJAH :

Sabar, Jun.

JAMILAH :

Aku sudah punya anak!

JUNED :

Punya anak?! Dari siapa?! Kau kan tidak sempat bermalam pengantin dengan bandot tua Badori!

JAMILAH :

Panjang ceritanya, derita demi drita telah aku rasakan, hingga pada akhirnya aku terdampar disini ( MENANGIS ).

JUNED :

Kau ingin keluar dari sini?!

JAMILAH :

Tentu saja, hanya tidak mungkin, anakku sudah akrab dengan Amih.Amih sudah dianggap Neneknya sendiri. Dan lagi pula, Amih mempunyai beking …. Pak Dulak beserta jegernya yang tak segan-segan menyiksa pada siapa sja yang mencoba lari dari sini.

BARJAH :

Serahkan saja padaku, tapi tidak sekarang. Untuk menghadapi Pak Dulak dan cecunguk-cecunguknya itu bukan hal sulit ( MINUM ). Mending minum saja.

JUNED :

Maksudmu kau dapat membantuku?!

BARJAH :

Percayalah padaku, asalkan kau mau menghadap Malim.

JUNED :

Malim?! Siapa dia?!

BARJAH :

Dia orang penting! ( PADA JAMILAH ) Tunggu tiga hari lagu, kami akan datang. Persiapkan dirimu dengan anakmu. Percayalah, kau pasti dapat keluar dari sini.

JAMILAH :

Baiklah, aku akan menunggu.

LAMPU PADAM.

KEMBALI KE PANGGUNG TENGAH.

JUNED :

Benarkah begitu bicaramu?!

BARJAH :

Ya, tapi kau membutuhkan bantuanku saat itu, kau jangan munafik Jun!

JUNED :

Ya, benar. Kukira bantuanmu tulus, ternyata minta bayaran yang tak pernah kubayangkan. Aku harus mau dibaiat dan menjadi anggota Pangguyuban! Aku tak kuas menolak!

VI.

SAYAP KIRI PANGGUNG. MARKAS PANGUYUBAN, TAMPAK PARA ANGGOTA PANGUYUBAN TENGAH MENDENGARKAN WEJANGAN MALIM.

DIANTARA MEREKA DUDUK PULA JUNED DAN BARJAH.

MALIM :

Jihad Fisabillah itu harus kalian camkan baik-baik dalam kalbu. Masa lalu dan masa sekarang tak ada bedanya. Masa lalu kita telah dikhianati, masa sekarang kita jangan mau dikhianati. Dari dulu kita mempunyai cita-cita menghancurkan kemunafikan, kedzoliman, kemaksiatan dan sebangsanya. Namun untuk mencapai cita-cita itu kita memerlukan dana yang tidak sedikit, apa lagi di zaman sekarang ini. Dana-dana perjuangan itu tengah kita kumpulkan dan akan terus kita kumpulkan dengan berbagai cara, cara khas Panguyuban. ( KEPADA JUNED ) Kau Juned, mendekatlah kemari!

JUNED :

Baik Malim ( BANGKIT ).

MALIM:

Dia ini bakal menjadi anggota baru dalam Panguyuban kita. Dia mempunyai latar belakang sebagai pembunuh, dia telah diganjar lima belas tahun. Beruntunglah dia bertemu dengan Barjah. Motto kita : “ SEMUA ANGGOTA MENDAPAT PERLINDUNGAN YANG SAMA, SEMUA ANGGOTA MENDAPAT SANGSI YANG SAMA “.

Maka hari ini kalian akan bergerak ke kelompok Kamalten, bawalah kekasih Juned dan anaknya dengan aman dan hancurkan kemaksiatan!

BERSAMA :

Hidup Malim!

MALIM :

Untukmu Juned, kau akan kami baiat, sumpah setia. Kau bersedia?!

JUNED :

Bersedia Malim!

MALIM :

Tujuan Panguyuban sangatlah mulia, apakah merasa terpaksa?!

JUNED :

Tidak Malim!

MALIM :

Tujuan Panguyuban ini suci, kau mengerti?!

JUNED :

Mengerti Malim!

MALIM :

Baiklah, bersiaplah untuk dibaiat. Buka bajumu dan berhadapanlah denganku!

JUNED :

Baik Malim ( MEMBUKA BAJU ).

MALIM :

Saksikan oleh yang lain!

BERSAMA :

Kami bersaksi Malim!

MALIM :

Bersiaplah dan ikuti ucapanku : “ AKU INSAN TUHAN, KECIL TAK BERDAYA UPAYA …..

JUNED :

“ AKU INSAN TUHAN, KECIL DAN TAK BERDAYA UPAYA ……

MALIM :

JALANKU JALAN SAMBIL MENGHANCURKAN KEMUNAFIKAN ….!

JUNED :

JALANKU JALAN SABIL MENGHANCURKAN KEMUNAFIKAN ……!

MALIM :

MENGHANCURKAN KEDZOLIMAN …!

JUNED :

MENGHANCURKAN KEDZOLIMAN …!

MALIM :

MENGHANCURKAN KEMAKSIATAN ….!

JUNED :

MENGHANCURKAN KEMAKSIATAN …..!

MALIM :

SEMUA ANGGOTA MENDAPATKAN PERLINDUNGAN YANG SAMA, SEMUA ANGGOTA MENDAPATKAN SANGSI YANG SAMA ….!

JUNED :

SEMUA ANGGOTA MENDAPATKAN PERLINDUNGAN YANG SAMA, SEMUA ANGGOTA MENDAPATKAN SANGSI YANG SAMA ….!

MALIM :

Kini bersiaplah menerima tanda keanggotaan ( KEPADA BARJAH ) Barjah! Pegang ini!

BARJAH :

Siap Malim …! ( BARJAH MEMEGANG JUNED ) Kau harus tahan!

( MALIM MENGELUARKAN GULUNGAN KAIN HITAM PISAU KECIL TINTA HITAM DARI SEBUAH KOTAK. TANPA DIPERINTAHKAN SEMUA ANGGOTA PANGUYUBAN MENDZIKIRKAN KATA-KATA SABILILAH. PUNGGUNG JUNED DIBERI TATO. UPACARA BAIAT SELESAI ).

MALIM :

Pakailah bajumu kembali dan kembalilah ketempatmu. Dia kini berhak mendapatkan perlindungan, kau harus ikut dalam operasi penyelamatan wanita yang bernama Jamilah. Karena itu akan menjadi bagian dari hidupmu. Operasi dipimpin Barjah, jangan bergerak tanpa perintahnya. Paham?!

JUNED :

Paham Malim!

LAMPU PADAM.

VII.

PANGGUNG KEMBALI KE TENGAH.

BARJAH :

Kau munafik, Jun. Lebih baik sadarilah sejak dini kau telah salah langkah!

JUNED :

Langkahku tak akan pernah salah apa bila tidak bertemu dengan kau!

BARJAH :

Kalau tidak bertemu dengan aku, kau tidak akan bertemu dengan kekasihmu, ingat itu!

JUNED :

Ya aku ingat, jasamu tidak akan kulupakan, ingat itu!

VIII.

PANGGUNG KEMBALI KE SAYAP KANAN, KOMPLEK KAMALATEN. TERDENGAR LAGU-LAGU DANGSUT YANG TENGAH TOP MENGALUN. TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA HERITAN DAN BENTAKAN DARI BEBERAPA PELACUR DAN JEGER TERJEREMBAB SEPASUKAN BERTOPENG BERSENJATA MUNCUL.

BARJAH :

Jangan melawan! ( NAIK KE ATAS MEJA ) Melawan berarti mati!

( LANTANG ) Kami tidak akan menyakiti kalian! Panggil si Amih sekarang, cepat! Siapa yang tahu dimana Amih?!

CENTENG : ( KETAKUTAN ).

Kalian Polisi?!

BARJAH :

Bukan! ( MENGARAHKAN PISTOL ) Kau centeng ya?! Panggil si Amih! Cepat! Kalian ikut dia, seret dia kemari!

( MUNCUL GERMO BERPAKAIAN MENYALA DAN MEROKOK DENGAN TENANGNYA ).

GERMO :

Tidak perlu dicari dan lagi pula kenapa pakai begini-beginian?! Kalau mau yang baru serta gratisan, tidak perlu menakut-nakuti seperti ini, Pak Dulak, kan?!

BARJAH :

( MEMBENTAK ) Sembarangan! Kami tidak kenal dengan yang namanya Pak Dulak, kami tidak mau tahu! ( MENGARAHKAN PISTOL ) Dengar, kami dari kelompok Lowo Ireng!

GERMO :

Jadi kalian bukan ……

BARJAH :

Bukan! Kami ke sini mau mengambil Karmila ungkluk kesayanganmu! Di mana dia?!

GERMO :

Dia lagi merawat anaknya, anaknya sakit panas. Demam!

BARJAH :

( KEPADA JUNED ) Kau bawa dia! Cepat, ikuti dia!

GERMO :

Untuk siapa Karmila?! …… apa untuk ….. tengkulak beras partai besar yang tempo hari tidak jadi itu?!

JUNED :

Banyak omong kau!

( MUNCUL JAMILAH DENGAN MEMBOPONG ANAKNYA DENGAN KAIN SAMPING )

Cepat keluar!

( PARA ANGGOTA LOWO IRENG BERGERAK KE DEPAN, YANG LAIN MEMATUNG. JAMILAH BERDIRI DENGAN BARJAH DI ATAS MEJA ).

TERDENGAR LAGU MARS MEREKA :

Sabil Sabil Sabil Sabil Ha!

Langkahkan kaki dijalan Sabil!

Siapkan hati tanpa kompromi!

Senjata ditangan!

Senjata ditangan!

Hancurkan si Kapir demi dzolim demi Malim!

Sabil Sabil Sabil Sabil Ha!

Langkahkan kaki dijalan Sabil!

Jangan bicara tanpa perintah!

Pilihlah mati!

Pilihlah mati!

Kuncilah bibir demi Sang Malim!

( PARA ANGGOTA LOWO IRENG BERGERAK KE LUAR, BEGITU JUGA BARJAH DAN JAMILAH ).

GERMO :

( MENANGIS ) Kamalaten suram bintangnya direbut orang.

( MEMAKI ) Anjing kalian telah merebutnya ….!

( TIBA-TIBA TERDENGAR SURA TEMBAKAN. GERMO TERKAPAR, LAMPU MERAH DAN PERLAHAN PADAM ).

XI.

KEMBALI KE TENGAH PANGGUNG.

BARJAH :

Bagus kalau kau masih ingat, jadi bagaiman sekarang?!

JUNED :

Apanya yang bagaimana?!

BARJAH :

Rencanmu terus menyandera aku yang terluka tanpa belas kasihan, bahkan kau menyandera dia, seorang Polisi Hutan yang tengah menjalankan tugasnya, kau ikat seperti itu, kau tutup mulutnya.

JUNED :

Diam! ( MENODONGKAN PISTOL ).

BARJAH :

Tembaklah aku, ayo tembak aku! Kenapa kau diam?! Tembak aku Juned, ayo tembak …!

( JUNED MEMBUKA TUTUP MULUT POLISI HUTAN ). Nah, begitu, kau mulai mencerna ucapanku, kenapa tidak sekalian kau bebaskan saja, kenapa?!

JUNED :

Aku tidak bodoh …..!

POLISI HUTAN :

Kau tidak bodoh tapi ceroboh!

JUNED :

Apa kau bilang?!

BARJAH : ( TERTAWA ).

Dia mengatakan yang sebenarnya, kau tidak bodoh itu betul, tapi kau ceroboh itu juga betul ….!

JUNED :

Ayo katakana apa maksudmu mengatakan kalau aku ini ceroboh?!

POLISI HUTAN :

Sebentar lagi pagi, petugas yang menggantikan saya jumlahnya lebih dari lima orang. Mereka akan menemukan korbn penembakan dan akan melaporkan segera pada pihak yang berwajib, yang berwajib akan segera datang dan mengepung kau. Bagaimana pun dua pucuk senjata pistol tidak akan mampu mengalahkan sejumlah polisi yang juga bersenjata.

BARJAH : ( TERTAWA ).

Kau dengar, Jun?! Sudahlah akhiri saja tindakan cerobohmu. Kita kembali ke tugas. Omongan dia memang benar adanya, percayalah, Jun.

JUNED :

Aku tidak akan mendengarkan omongan dia ….!

JUNED :

Aku tidak akan mendengarkan omongan dia …!

BARJAH :

Tapi telingamu tidak tuli, bukan?!

( TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA PERINGATAN DARI LUAR. SUARA MALIM).

MALIM :

Hei! Kau sudah terkepung Juned! Menyerahlah!

JUNED :

Tobatku hanya kepada Tuhan!

BARJAH :

Ayo jawabkah, apa kau gentar?!

JUNED :

Aku tak akan menyerah!

MALIM :

Baiklah, kau tahu siapa yang aku bawa! Lihat baik-baik dari jendela!

JUNED :

Jahanam!

BARJAH :

Ada apa, Jun?!

JUNED :

Dia bawa anak dan isteriku ….!

POLISI HUTAN :

Anak dan isteri adalah segalanya, saya pun membanting tulang untuk mereka. Jangan kau sia-siakan mereka. Sebaiknya menyerah saja …!

JUNED :

Diam kau kunyuk! ( JUNED MENGIKAT KEMBALI MULUT POLISI HUTAN ITU ). Nah, sekarang mengocehlah!

BARJAH :

Jangan menjadi kikuk begitu Jun, serahkanlah saja padaku, aku bisa meyakinkan Malim bahwa kau hanya khilaf. Bagaimana?!

JUNED :

Aku tidak akan menerima tawaran apa pun darimu, sehalus apa pun!

BARJAH :

Terserah!

MALIM :

Hei! Bagaimana?! Aku hitung sampai lima jika tidak, siap-siaplah kau akan mampus menjadi bangkai!

JUNED :

Aku siap menjadi bangkai!

BARJAH :

Kamu nekat, Jun! Bagaimana anak dan isterimu yang kau kasihi?!

JUNED :

Aku serahkan pada Tuhan.

MALIM :

Satu!

BARJAH :

Mereka akan menembaki kita dan Polisi Hutan itu akan mati sia-sia! Sebelum terlambat, menyerahlah Jun!

MALIM :

Tiga ….

JAMILAH :

Kang Juned …..! Menyerahlah saja, Kang ……!

JUNED : ( teriak ).

Aku bukan orang orang lembek ….. ingat itu Ilah!

ABUY :

Bapak ………!

BARJAH :

Kau dengar mereka?! Orang-orang yang kau kasihi dan cintai sepenuh hati. Mereka memintamu untuk menghentikan aksi penyanderaan konyol ini.

MALIM :

Empat!

BARJAH :

Demi Tuhan, menyerahlah kau! ( HISTERIS ) Kita akan mati! Kita akan mati!

JUNED :

Sejak kapan kau kecil hati, Jah?!

( JUNED SEGERA MEMADAMKAN LAMPU TEMPEL DAN RUANGAN MENJADI GELAP. HANYA TERDENGAR SUARANYA SAJA ).

Aku ingin tahu apa reaksi mereka!

BARJAH :

Kau sudah gila!

MALIM :

Meski pun kau padamkan, kami akan tetap menyerang! Kami punya lampu senter!

( TERTAWA ).

JUNED :

( MEMBEBASKAN POLISI HUTAN ). Aku tidak mau melihatmu mati sia-sia. Bantulah aku melawa mereka! ( MEMBERIKAN PISTOL ).

POLISI HUTAN :

Baiklah, ayo kita seret ranjang bamboo ini ke pintu!

( MEREKA MENYERET RANJANG KAYU KE PINTU ). Begitu lampu senter menyala, kita menembak!

MALIM :

Cerdik juga kau! Tapi jangan menyesal dalam hitungan ke lima kau akan menjadi bangkai. Lima!

( TERDENGAR SURA TEMBAKAN BERCAMPUR SOROTAN LAMPU SENTER DAN TERDENGAR SUARA TERIAKAN DALAM BEBERAPA SAAT, LALU SEKILAS LAMPU PANGGUNG MERAH. TAMPAK JUNED DAN POLISI HUTAN MASIH BERTAHAN. KEMBALI TERDENGAR SUARA TEMBAKAN DAN SEKILAS TAMPAK JUNED DAN POLISI HUTAN NAIK KE ATAS DENGAN TAMBANG. AKHIRNYA SEPI SESAAT. MASUK BEBERAPA ORANG ANAK BUAH MALIM. SOROT LAMPU SENTER BERTEBARAN ).

MALIM :

Nyalakan lampu temple!

( KEWENG MENYALAKAN LAMPU TEMPEL. PANGGUNG KEMBALI TERANG. TAMPAK BARJAH SUDAH MATI. JUNED DAN POLISI HUTAN MENGHILNG ).

JAMILAH : ( MENJERIT ) Kang Barjah ……!  ( MENANGIS ) Kalian tega-teganya membunuh dia!

MALIM :

( MEMBENTAK ) Diam! Mustahi dia menghilang! Cari keluar!

( GOJAL DAN KEWENG KELUAR. TIGA ORANG LAINNYA MEMERIKSA TEMPAT ITU TANPA MELIHAT KE ARAH ATAS ).

JAMILAH :

Mana Kang Juned?!

MALIM :

Suamimu menghilang!

JAMILAH :

Kalau begitu dia selmat! ( KEPADA ABUY ) Buy, Ayahmu selamat!

ABUY :

Dimana sekarang, Mak?!

JAMILAH :

Entahlah, Nak ………

( GOJAL DAN KEWENG DATANG ).

GOJAL :

Di luar sepi-sepi saja!

KEWENG :
Kita harus tinggalkan tempat ini, sebentar lagi subuh tiba ….!

MALIM :

Sialan! Ayo kita pulang saja! Bawa mayat Barjah, kita kuburkan dank kau, Jal …. Kasih tahu isteri dan anaknya.

( PAdA JAMILAH ) Ayo kita pulang, suamimu menghilang!

JAMILAH :

Aku tidak mau pulang, biarkan kami disini!

MALIM :

Kau mau mencelakakan kami?! Ayo ikut!

JAMILAH :

Tidak!

MALIM :Baiklah, kau diam disini. Tapi anakmu aku bawa, ia akan aku pungut sebagai anakku sendiri! ( GOJAL MEMBAWA ABUY ).

JAMILAH :

Tidak, jangan! Baiklah aku ikut, tapi pulangkan kami ke rumah kami!

MALIM :

Jangan banyak minta! Ayo kita pulang!

( MEREKA KELUAR, PERLAHAN LAMPU PADAM ).

X.

KEMBALI KE SAYAP KIRI PANGGUNG. TAMPAK JAMILAH DAN UMI SEDANG BERBINCANG.

UMI :

Kita sama-sama mencintai suami kita. Beruntunglah kau karena punya anak yang sehat dan cerdik!

JAMILAH :

Ya, tapi nakalnya bukan main.

UMI :

Pernahkah kau bertengkar dengan suamimu?!

JAMILAH :

Bertengkar?! ( TERTAWA KECIL ). Rasanya semua orang yang sudah berumah tangga pernah bertengkar. Hanya pertengkaran kita agak lain, karena menyangkut kegiatan yang dilakukan suamiku yang marah besar ketika aku membuka peti besi yang disimpan dibawah ranjang.

XI.

KEMBALI KE PANGGUNG TENGAH. RUMAH JUNED DAN JAMILAH. PERTENGKARAN JUNED DAN JAMILAH TENGAH BERLANGSUNG.

JUNED :

Aku sudah bilang jangan berani-berani membuka peti besi itu!

JAMILAH :

Tapi kau pernah bilang, tak ada rahasia diantara kita!

JUNED :

Benar! Tapi untuk yang satu ini tidak!

JAMILAH :

Kenapa?! Kenapa tidak?! Apa isinya bom?!

JUNED :

Bukan bom, tapi jalan hidupku!

JAMILAH :

Jalan hidupapa yang kau simpan didalam peti besi?! Aku ingin tahu!

JUNED :

Jalan hidup yang kupilih!

JAMILAH :

Jalan hidup macam apa?!

JUNED :

Jalan hidup yang membebaskan kamu, tahu!

JAMILAH :

Apa maksudmu?!

JUNED :

Aku bebaskan kamu, aku tukar dengan kesetiaanku pada Malim! Tanpa bantuannya aku tak akan pernah memilikimu!

JAMILAH :

Kamu ngomong apa?! Jelaskan yang sebenarnya!

JUNED :

Baik, aku buka peti besi ini tapi kau jangan berpalingdariku!

JAMILAH :

Bukalah! Percayalah aku tak akan berpaling!

( JUNED MEMBUKA PETI BESI ITU. SATU PERSATU JUNED MENGELUARKAN ISINYA ).

JUNED :

Dua granat tangan.

JAMILAH :
Astaga!

JUNED :

Satu kantung plastik peluru.

JAMILAH :

Astaga!

JUNED :

Dan ini bendera Panguyuban. ( TAMPAK BENDERA PANGUYUBAN BERWARNW HIJAU DENGAN TULISAN SABIL ).

JAMILAH :

Astaga!

JUNED :

Inilh “ Sang Mata Air, Sang Perintis Perang Sabil! “ (  JUNED MEMPERLIHATKAN FOTO KARTOSUWIRYO ). Kau puas sekarang?!

JAMILAH :

Apa artinya semua ini?!

JUNED :

Aku menjadi anggota Panguyuban! Karena Panguyuban kau bebas!

JAMILAH :

Tap kenapa mesti pakai granat dan pistol?!

JUNED :

Ini hanya untuk jaga-jaga dan menakut-nakuti saja.

JAMILAH

Tapi …. Bukankah kita ingin hidup damai?!

JUNED :

Kenbali ke kampong, jadi petani, nanam padi, nanam Palawija,  punya kolam, punya ingon-ingon, kau ngantar makanan siang, anak kita main kolecer disaung. Itu hanya khayalan kia, Lah …… khayalan kita! Mungkin suratan nasib kita harus begini! Kita jalani saja, kita lakoni saja!

XII.

KEMBALI KE SAYAP KIRI PANGGUNG. JAMILAH DAN UMI TENGAH BERBINCANG.

UMI :

Suamimu benar, kita harus jalani hidup ini.

JAMILAH :

Benar Umi, kita tak berdaya. Kita hanya bisa berdoa semoga penderitaan ini segera berakhir!

JUNED :

Kita memang harus mengakhirinya!

( UMI DAN JAMILAH MELIHAT KE ARAH SUARA. TAMPAK JUNED BERDIRI DIAMBANG PINTU ).

JAMILAH :

Kang Juned!

UMI :

Bagaimana kau bisa masuk kemari?! Didepankan dijaga Gojal?!

JUNED :

Gojal telah pergi.

JAMILAH :

Maksudmu mati?!

JUNED :

Ya, merealah yang telah membunuh Barjah …….!

JAMILAH

Bagaimana kau bisa selamat?!

JUNED

Aku juga tidak tahu. Beruntunglah Polisi Hutan itu aku bebaskan dan ia mengajakku bersenbunyi diatap rumah jaga dengan jalan naik tambang. Untunglah sewktu kau dan Malim datang, kami sudah berada di atas rumah jaga …..!

UMI :

Sekarang kemana Polisi Hutan itu?!

JUNED :

Sudah pergi!

JAMILAH :

Kau bunuh juga?!

JUNED :

Tidak, aku bebaskan.

JAMILAH :

Bagus. Tetapi bagaimana kalau dia memberi tahu pada pihak yang berwajib?!

JUNED :

Percayalah hal itu tidak akan dia lakukan padaku, kecuali jika dia menghianati aku.

UMI :

Pasti dia menghianatimu. Kau lupa bahwa dia juga seorang polisi, sekalipun hanya polisi hutan! Aku tahu tentang sikap dan tanggung jawab polisi, karena aku dulu punya keluarga polisi. Perkawinanku dengan Malim membuat aku dijauhi keluarga.

JUNED :

Kau mau ikut dengan kami?! Kita pergi dari sini.

UMI :

Apa pun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkan Malim. Cepatlah kalian pergi dari sini. Bawa anakmu yang tengah tidur dikamar.

( JAMILAH SEGERA MENGAMBIL ANAKNYA. JAMILAH KELUAR DENGAN MENGGENDONG ANAKNYA. JAMILAH MENCIUM TANGAN UMI LALU MEREKA PERGI, MENGHILANG DARI PANDANGAN ).

TERDENGAR PUPUJIAN :

Mun urang boga rumasa

Ngarasa jadi jelma

Sing emut ka nu Kawasa Nu masiahn Pangabisa

( Bila kita meyakini

Dan merasa menjadi manusia

Ingatlah pada Yang Kuasa

Yang memberi kepandaian ).

LAMPU MENYALA. MALIM TENGAH MARAH PADA UMI DISAKSIKAN KEWENG.

MALIM :

Apa kau sudah gila?! Membiarkan mereka pergi itu adalah perbuatan gila! Mana rasa setiamu pada suamimu?! Kenapa tidak kau tahan sampai aku datang?! Kau telah menghianati cinta kita!

UMI :

Aku akan pergi dari sini!

MALIM :

Apa kau bilang?! Pergi?! Tidak!

UMI :

Kenapa tidak?! Bukankah kau pernah mempersilahkan aku untuk pergi?!

MALIM :

Ya, pergilah! Tapi kau tak akan kuceraikan!

UMI :

Aku tak akan minta cerai!

MALIM :

Kukira kau orang yang sabar.

UMI ;

Sabar pun ada batasnya. Segala tindakanmu mungkin harus berakhir karena Juned. Sebab Juned sebenarnya akan memilih jalannya yang lurus tetapi dicegat Barjah yang membawanya ke jalan yang berbelok-belok, penuh krikil dan bara!

MALIM :

Kau memihak dia?!

UMI :

Aku tidak memihaknya! Tetapi aku memahaminya, sebagai keluarga yang mengiginkan ketentraman.

MALIM :

Ia tidak akan pernah tentram selama masih berurusan denganku. Terlalu banyak kerugian Panguyuban oleh tindakan bodohnya itu!

UMI :

Jadi kau mau bur uterus sampai kau mendapatkannya?!

MALIM :

Benar! Aku akan buru dia sampai ketemu!

UMI :

Setelah itu?!

MALIM :

Tamat riwayat Juned si pembelot itu!

UMI :

Bagaimana dengan isteri dan anaknya?!

MALIM :

Aku tidak punya urusan dengan mereka, tetapi apa bila menjadi penghalang, aku tak segan-segan menamatkan riwayat mereka juga!

UMI :

Kau sudah menjadi setan, bukan lagi manusia!

MALIM :

Aku bosan kau beri petuah. Pergilah dari sini! Aku tak perduli apa yang akan terjadi padamu! Pergi!

UMI :

Syukurlah, akhirnya kau mengijinkan aku pergi. Maafkanlah aku yang menjadi isterimu selama ini. Satupun tak dapat kuberikan anak padamu, aku hanya pernah punya kesetiaan. Aku pergi! ( PADA KEWENG ) Jaga baik-baik Malim ( UMI PERGI ).

MALIM :

Ini semua gara-gara Juned! Kita harus tamatkan riwayatnya! ( LAMPU PADAM ).

XIII.

KEMBALI KE PANGGUNG TENGAH. RUMAH JUNED DAN JAMILAH.

JUNED :

Kita harus segera pergi! Bawa gembolan seperlunya!

JAMILAH :

Mau kemana kita Kang?!

JUNED :

Kita menyerahkan pada yang berwajib!

JAMILAH :

Apa?!

JUNED :

Kau tak perlu heran, tekadku untuk menjadi orang baik tetap ada. Dari pada hidup kita terus-terusan dikejar rasa bersalah.

JAMILAH :

Tapi berarti itu Akang akan kembali dipenjara!

JUNED :

Biarlah, itu tebusannya yang setimpal.

JAMILAH :

Bagaimana dengan aku dan Abuy?!

JUNED :

Cobalah nanti pulang ke desa, siapa tahu lakian bisa hidup tenang disana! Temui adikku Jali!

( TIBA-TIBA MUNCUL MALIM DAN KEWEWNG YANG BERSENJATA ).

MALIM:

Kalian tidak bisa pergi!

JUNED :

Siapa bilang?!

MALIM :

Aku yang bilang!

JUNED :

( PADA JAMILAH ) Pergilah ke kamar! Jaga anak kita!

( JAMILAH LARI KE DALAM KAMAR TETAPI KEJAR OLEH KEWENG. TIBA-TIBA TERDENGAR LETUSAN SENJATA ).

MALIM : ( TERTAWA .

Maafkanlah, terpaksa Keweng membunuh isterimu!

JUNED :

Isteriku bukan isteri yang bodoh! Dia membawa senjata, Malim.

( JAMILAH KELUAR BERSAMA ANAKNYA DI DEKAT PINTU. PISTOL DITANGAN JAMILAH ).

MALIM :

Apa-apaan ini?!!!

JAMILAH :

Pulanglah Malim, kami ingin hidup tenang!

MALIM :

Baiklah, aku pulang!

( MALIM MEMBALIKAN TUBUHNYA DAN TIBA-TIBA MALIM MEMBALIKAN LAGI TUBUHNYA LALU MENEMBAK JUNED. SEMPOYONGAN, ROBOH.

JAMILAH SEGERA MEMBALAS TETAPI KALAH CEPAT OLEH MALIM. JAMILAH PUN ROBOH. ABUY SEGERA MENUBRUK IBUNYA, MENANGIS. )

ABUY :

Emak!

( DENGAN TENANG MALIM MENGELUARKAN ROKOK DAN MENGHISAPNYA. MALIM TAK MEMPERHTIKAN ABUY YANG MENGAMBIL PISTOL DITANGAN IBUNYA. ABUY TANPA MENUNGGU LANGSUNG MENEMBAK TUBUH MALIM BERKALI-KALI, MALIM ROBOH )

LAMPU GELAP

Komentar
  1. […] 15. lakon wanita yang diselamatkan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s