hitam putih

Posted: Mei 8, 2010 in drama, indonesian language, naskah drama, Uncategorized

NASKAH DRAMA REMAJA

HITAM PUTIH

Untuk diikutsertakan dalam

“Lomba Penulisan Naskah Teater

Seksi Penyajian Taman Budaya Jawa Timur 2004”

Karya :

ENANG ROKAJAT ASURA

CILEGON 2004

JUDUL : HITAM PUTIH

TOKOH :

AMARAL

NENEK

RIO

DUA ORANG BODYGUARD

PUTRI

SEORANG LELAKI

FIGURAN

1

BABAK SATU

PANGGUNG ADALAH SEBUAH RUANGAN KOSONG. RUANGAN FANTASI. AMARAL, SEORANG REMAJA BELIA TERSERET DALAM TARIK-MENARIK ANTARA KEPENTINGAN YANG BERBEDA. DI SISI KIRI RIO DENGAN SELENDANG HITAM, DAN DI SISI KANAN NENEK DENGAN SELENDANG PUTIH.

TARIK-MENARIK ANTARA RIO DAN NENEK AMARAL MEMBENTUK SEBUAH TARIAN. SELENDANG HITAM DAN PUTIH ITU TERUS MENJERAT AMARAL DALAM GERAKAN-GERAKAN YANG MAKIN LAMA KIAN RANCAK. AKHIRNYA PADA SAAT AMARAL MENCAPAI PUNCAK KEKESALAN DAN GELISAH, SELENDANG HITAM DAN PUTIH ITU PUTUS. AMARAL TERDUDUK LESU BEBERAPA SAAT. DALAM TEMARAM LAMPU, GERAK AMARAL BANGKIT MEMBENTUK SEBUAH SILHOUTTE. DINGIN.

DETAK JANTUNG TERDENGAR MEMBURU. AMARAL BANGKIT KEMUDIAN MENGIKUTI GERAK DETAK JANTUNG ITU. MAKIN LAMA TERDENGAR MAKIN KERAS DAN MEMBURU. PADA DETAK JANTUNGNYA SENDIRI, AMARAL TIDAK BISA MENGUASAI BAHKAN TAK MAMPU MENGENDALIKAN. DETAK JANTUNG ITU TERUS MEMBURU DAN MEMBURU. AMARAL LALU TERENGAH-ENGAH MENCARI SESUATU. DI KIRI DAN KANAN SELENDANG PUTIH DAN HITAM JUGA MENGGAPAI-GAPAI.

AMARAL

Hitam….putih…

Hitamku …putihmu…putihku…hitammu…

Dimana hitamku…dimana hitammu…

Dimana putihku….dimana putihmu…

Putih….hitam…

Putihku…hitamku…dingin…

Angin…dimana hitamku…dimana putihku…

RIO

Hitammu disini…bukan itu…bukan disana…

Lihat…pandang…tatap…

Hitammu di sini…Amaral !

AMARAL

Hitamku di sana ? hitamku di nadimu ?

NENEK

Itu bukan hitam, Cu !

Itu abu-abu…abu bukan hitam…karena ada putih di sana…

Abu-abu bukan putih…

Oh…( TERKEKEH ) abu-abu bikin bingung kamu, Cu ?

Tidak…jangan bingung !

Pandanglah abu-abu itu dengan ini …

( MENEPUK DADA DAN BATUK )

RIO

( TERKEKEH )

mana mungkin bisa membedakan hitam dan putih,

mengatur nafas saja tidak becus !

kau batuk-batuk terus, Nek !

Tak perlu memikirkan hitam dan putih,

pikirkanlah liang lahat !

NENEK

Tengik juga kau anak muda !

Jangan dengar itu, Cu ! Jangan kau dengar…

kau akan menemukan putihmu…

putihmu yang kaucari…bukan putih dia…

bukan putih orang lain !!!

AMARAL

Biarlah aku pandang sendiri, Nek !!

Jangan memandang dengan mata nenek…

Aku masih awas…

Pasti lebih awas !

Mata nenek sudah rabun…

Mana bisa mewakili keinginanku !!

AMARAL BERJALAN KE DEPAN PANGGUNG. PADA PENONTON. MENATAP SATU PER SATU. MENCARI SESUATU. AMARAL SEPERTI BINGUNG SENDIRI. NENEK GELENG-GELENG KEPALA TAK PERCAYA DENGAN UCAPAN CUCUNYA TADI.

AMARAL

Aku tak melihat putih di sana…

Hoi…adakah putihku di sana ?

Hoi…hanya ada hitamkah di sana ?

NENEK

( BATUK-BATUK )

hitam dan putih tidak dimana-mana, Cu !

tapi di sini ….

( MENEPUK DADA DAN BATUK-BATUK KEMBALI )

ah…kenapa penyakit ini selalu saja manja…

dasar penyakit jaman sekarang…

manja…tak bisa mandiri…

AMARAL

( PADA NENEK )

Artinya nenek sudah tua…

NENEK

Bagus…bagus itu, Cu !

Kalau kau sudah mengaku aku tua,

kau akan pula mengaku nenekmu bisa membedakan

mana hitam mana putih…

RIO

Dalam kacamata tuamu,

mana mungkin bisa membedakan hitam dan putih

lihat…ini hitammu di sini…

hitammu ada pada hitamku, Amaral !

AMARAL MULAI TERLIHAT GAMANG. IA BERJALAN KE ARAH RIO. NAMUN NENEK TIBA-TIBA DATANG TERGOPOH. DENGAN SELENDANG PUTIHNYA, NENEK MEMBELIT AMARAL. SESEKALI BERHASIL, TAPI AMARAL BISA LEPAS. DIBELITKANNYA LAGI SELENDANG ITU BEBERAPA KALI. BERHASIL. TAPI AMARAL BISA MELEPASNYA LAGI. ADEGAN INI BEBERAPA KALI DIULANG SEHINGGA TERLIHAT BAGAIMANA TARIK-MENARIK KEINGINAN ANTARA AMARAL DAN NENEK.

DARI SUDUT PANGGUNG BEBERAPA ORANG BERPAKAIAN HITAM SEHINGGA HANYA TAMPAK SEBAGAI BAYANGAN. BAYANGAN HITAM ITU KEMUDIAN MENDEKATI NENEK DAN AMARAL. PADA SATU SAAT SECARA SEREMPAK BAYANGAN ITU MEMEGANG AMARAL, MENGANGKATNYA TINGGI DAN MEMBOPONGNYA MENJAUH DARI NENEK. RIO TERDENGAR TERKEKEH. KEMUDIAN LELAKI JANGKUNG INI DUDUK DI KURSI. IA MULAI KONSENTRASI DAN BERMAIN PIANO. PIANO FANTASI. LAMAT-LAMAT MENGALUN LAGU SENDU. NENEK TERLIHAT BERDIRI GOYAH, LALU TERDUDUK TAK MAMPU MENAHAN GEJOLAK RASA DAN BERAT TUBUHNYA.

NENEK

Tuhan, jangan biarkan hitam membawa cucuku !

Kuatlah putihmu di sini….

Pancarkan putihmu pada cucuku !

Jangan…jangan biarkan hitam itu, Tuhan !

Jangan biarkan membawa cucuku…

NENEK MEMAKSA BERDIRI TAPI KEMBALI TERDUDUK. BERDIRI. DUDUK. BERDIRI DAN ROBOH KEMBALI. NENEK AKHIRNYA MENDORONG TUBUHNYA KE ARAH PENONTON. SEPERTI TENTARA SEDANG LATIHAN TIARAP. NENEK TERUS MENDEKATI PINGGIR PANGGUNG. SEMENTARA RIO TERUS BERMAIN PIANO. MAKIN SEMANGAT BAHKAN SEPERTI YANG KERASUKAN SEHINGGA NADA YANG DIHASILKANNYA PUN LEBIH BERUPA TEROR. TEROR NADA. NENEK TAK PEDULI DAN TETAP BICARA PADA PENONTON.

NENEK

Adakah putihku di sana ?

Tunjukanlah !!!

Mana putihku ?

DARI ARAH PENONTON

Tak ada putih di sini…

NENEK

Ah, ternyata kalian masih suka bohong…

Aku pikir kebohongan hanya ada di pasar-pasar…

Ditawar seribu…dia bilang belinya saja seribu dua ratus…

padahal ia beli lima ratus…he he he…

Aku sangka kebohongan hanya ada di terminal…

bus penuh dikatakan kosong…

tadinya aku hanya beranggapan…

kebohongan hanya ada di senayan

tapi ternyata…di sini juga …

apa pasar pindah ke sini heh ?

apa terminal juga ada di sini ?

atau tempat ini sudah disulap jadi senayan tandingan ?

NENEK TERGOPOH DAN MENJAUH DARI PENONTON. TAPI DIA BALIK LAGI. TIARAP LAGI. BERTANYA LAGI PADA ARAH PENONTON.

NENEK

Adakah putihku di sana ?

Tunjukanlah…mana putihku ?

TAK TERDENGAR JAWABAN. SEPI.

NENEK

Adakah putihku di sana ?

( SEPERTI AKAN MENANGIS )

Tunjukanlah…mana putihku ?

TAK TERDENGAR JAWABAN. HENING.

NENEK

( BENAR-BENAR MENANGIS DAN BICARA SENDU )

Adakah putihku di sana ?

Tunjukanlah !!

Mana putihku ?

NENEK MEMEGANG SELENDANG PUTIH. DIBELITNYA KE LEHER. AMARAL DATANG DARI ARAH LAIN. KAGET. LALU IA MEMEGANG NENEK. MEMELUKNYA.

AMARAL

Nenek jangan bunuh diri…

Nenek masih diperlukan di sini…

NENEK MEMAINKAN SELENDANG DAN SEPERTI AKAN BENAR-BENAR DIBELITKAN KE LEHERNYA SENDIRI.

AMARAL

Jangan, Nek !

Jangan buang kesempatan hidupmu…

Hidup itu mahal !!

AMARAL MEMBAWA NENEK MENJAUH DARI ARAH PENONTON. RIO TERTEGUN SEJENAK. TAPI JARI-JEMARINYA TETAP SEPERTI SEDANG MEMAINKAN PIANO. NENEK MENATAP KE ARAH PENONTON SAMBIL TERSENYUM PENUH KEMENANGAN.

NENEK

Cucuku masih ada…

Dia masih sayang…

AMARAL TERSENTAK. MELIUK. MENGHENTAK DAN MENJAUH. NENEK BENGONG DAN KECEWA. SELENDANG AKAN DIBELITKANNYA KE LEHER TAPI AMARAL TETAP MENJAUH. MELIUK. RIO TETAP MEMAINKAN PIANO DENGAN SEMANGAT.

PADA SATU KESEMPATAN NENEK BENAR-BENAR MENJERAT LEHERNYA. TAPI KETIKA AKAN DITARIK, NENEK BATUK-BATUK. BATUK ITU TERUS TERDENGAR SEIRING DENGAN SUARA PIANO YANG SEOLAH SEDANG DIMAINKAN RIO.

SEIRING TERDENGAR SUARA LEDAKAN, RIO, NENEK DAN AMARAL BERKUMPUL DI TENGAH PANGGUNG. MEREKA TAMPAK PANIK.

RIO

Bom !!

AMARAL

Bom … bom !!

NENEK

Bukan bom…itu tadi kentut !

RIO

Kentut ? begitu kerasnya kentut ?

NENEK

Ya, itu tadi kentut !

Bahkan ada kentut yang bisa lebih keras dari itu…

AMARAL

Ngaco !

Nenek jangan ngaco !

Ayo keluar…itu tadi bom…

atau paling tidak granat tangan…

NENEK

Kentut !

RIO

Siapa yang kentut ?

NENEK

Kamu ! kau yang kentut !

Kentut orang macam kau itu pasti sekeras bom !

RIO

Aku kentut ? kentutku keras ?

Mana mungkin, Nek,

aku masih bebas keluar masuk Amerika !

kalau aku kentut sekeras bom,

pasti dicekal masuk Amerika…

NENEK

Kalau begitu, kau yang kentut, Cu !

AMARAL

( TERSIPU )

Nenek…mana mungkin aku kentut di depan umum…

lagi pula kentut perempuan itu tidak keras…

Mana mungkin bisa sekeras bom…

NENEK

Ya, sudah !

Kalau begitu, mungkin aku yang kentut…

Kentutku bisa sekeras bom,

buat ngebom laki-laki brengsek yang akan mengganggu kamu !!

Tapi….karena aku perempuan,

pasti kentutku tetap santun…

Buktinya kentutku tak salah sasaran kan ?

Tidak salah tembak…

Kentutku tepat nembak Riomu itu !

RIO MENJAUH. DUDUK DI KURSI. SEPERTI ADEGAN SEBELUMNYA, IA KONSENTRASI DAN KEMBALI SEOLAH SEDANG BERMAIN PIANO. AWALNYA PERMAINAN PIANO RIO SYAHDU, TAPI MAKIN LAMA TERASA SEMAKIN BERSEMANGAT. MENGHENTAK. PERHATIAN AMARAL TERSEDOT LALU MULAI IKUT HANYUT PADA PERMAINAN PIANO RIO. AMARAL MULAI BERNYANYI KENDATI SEPERTI SEDANG TERCEKIK.

AMARAL

menghitung hari…

detik demi detik…

PADA ADEGAN BERIKUTNYA AMARAL SEPERTI TELAH MENJADI SEORANG PENYANYI. IA MENANGGALKAN PAKAIAN KESEHARIANNYA. IA SEPERTI SEDANG MENYANYI DI HADAPAN BANYAK PENONTON. NENEK SENDIRI DUDUK DI POJOK MEMEGANG SELENDANG PUTIH. SELENDANG ITU IA PANDANG SEBAGAI SEORANG ANAK KECIL. DIELUS. DIAJAKNYA BERMAIN. RIO TERUS MENGIMBANGI AMARAL MENYANYI.

NENEK MASIH JUGA BERMAIN DENGAN SELENDANG. PADAHAL TAK JAUH DARINYA, AMARAL SEDANG MENARI DENGAN RIO. PADA BEBERAPA GERAKAN TARIAN ITU TAMPAK EROTIS SEHINGGA MEMBERI GAMBARAN BAGAIMANA PERTEMANAN ANTARA AMARAL DAN RIO TELAH BERUBAH MENJADI HUBUNGAN CINTA KASIH.

TARIAN AMARAL DAN RIO DEMIKIAN MEMUKAU. PADA SATU SAAT TIBA-TIBA AMARAL TERKILIR DAN JATUH. RIO MENATAP TAJAM LALU DENGAN TAK ACUH MENINGGALKAN AMARAL YANG PADAHAL SEDANG MERONTA MEMINTA TOLONG. RIO LALU DUDUK DI TEMPATNYA SEMULA DAN DENGAN EMOSIONAL MEMAINKAN PIANO SEHINGGA MENGELUARKAN SUARA BERISIK. NENEK TERSENTAK. MENATAP PADA AMARAL SILIH BERGANTI DENGAN MENATAP RIO.

NENEK

Ah…kau ini !

Dia itu lelaki tak bertanggung jawab…

AMARAL

Tapi Rio telah memberi jalan….

Jalan menuju sukses, Nek !

NENEK

Yang memberi jalan itu, Allah !

Jangan kau salah sangka…

Kita itu kecil…kerdil…

Mana mungkin bisa memberi jalan untuk orang lain,

jalan buat sendiri saja tidak bisa…

AMARAL

Sudahlah, Nek !

Simpan omongan nenek itu di lemari besi…

Aku tak mau mendengarnya lagi…

NENEK

( TERSENTAK HINGGA SELENDANG JATUH )

Amaral ?

AMARAL

Sadar…aku sangat sadar !

NENEK

Oh, Tuhan, sia-sialah upayaku ini…

AMARAL

Nenek tidak mengerti…

Dunia hiburan memberi jalan hidup…

jalan yang tak pernah nenek temukan dulu…

Pandanglah dunia dengan mata sekarang, Nek !!

Bukan mata nenek yang dulu !

NENEK

Mengkhayalah terus…

Bermainlah dalam fantasimu !!

Tapi kau sedang ada dalam genggamanku sekarang…

AMARAL

Mulai sekarang tidak, Nek !

Aku lepas…bebas…

NENEK

Bawalah pikiranmu…

Tapi kau lupa, hatimu tetap di sini…

NENEK MEMANDANG SELENDANG YANG JATUH. TAPI KETIKA IA BERGERAK UNTUK MENGAMBILNYA, DENGAN CEPAT RIO JUSTRU YANG MENGAMBIL SELENDANG PUTIH ITU. RIO BERLARI KE TENGAH PANGGUNG. MENYATUKAN SELENDANG PUTIH DAN HITAM MILIKNYA. SELENDANG ITU TERUS DIPILIN SEHINGGA WARNANYA SALING SILANG, HITAM DAN PUTIH. NENEK BENAR-BENAR KECEWA BAHKAN MENANGIS TERSEDU. AMARAL BERDIRI MEMANDANG KE ARAH RIO. RIO TERSENYUM. MENGULURKAN SELENDANG ITU. AMARAL MENCOBA MENANGKAPNYA BERKALI-KALI TAPI TAK JUGA BISA MEMEGANGNYA.

PANGGUNG GELAP. SUARA MENGHENTAK. DALAM GELAP PANGGUNG ITU TERDENGAR KEMBALI LEDAKAN.

SEBUAH SUARA

Siapa yang kentut ?

Ayo ngaku !

Siapa yang kentut ?

Perempuan atau laki-laki ?

MUSIK BERHENTI. LAMPU BERUBAH. SUASANA BERUBAH. PANGGUNG BERUBAH PADA ADEGAN BERIKUTNYA.

***

2

BABAK DUA

SEBUAH KURSI SIMBOL KESUKSESAN BERADA DI TENGAH PANGGUNG. BEBERAPA SAAT PANGGUNG ITU HANYA BERISI KURSI TERSEBUT. CAHAYA TERANG. PADA SATU SISI PANGGUNG ADALAH KAMAR NENEK LENGKAP DENGAN TERALIS. NENEK SESEKALI TAMPAK DARI JENDELA, MENATAP KELUAR KADANG MEMEGANG TERALIS MENATAP PADA JARAK JAUH.

DARI LANGIT TURUN HUJAN. BUKAN HUJAN AIR MELAINKAN LEMBARAN UANG DAN BUNGKUSAN KADO. LEMBARAN UANG DAN BUNGKUSAN KADO YANG SEOLAH TURUN DARI LANGIT ITU DIATUR SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA JATUH DI ATAS KURSI KESUKSESAN, PALING TIDAK DI SEKELILINGNYA.

DARI ARAH LAIN BEBERAPA ORANG BERPAKAIAN HITAM MENYERET SEBUAH KOTAK KADO DALAM UKURAN SANGAT BESAR. DENGAN KESULITAN MEREKA TERUS MENDORONG KADO TERSEBUT HINGGA MENDEKATI KURSI. KADO RAKSASA ITU BERBEDA DENGAN KADO-KADO LAIN. SELAIN UKURANNYA BESAR JUGA WARNANYA HANYA HITAM DAN PUTIH. KADO RAKSASA ITU DEMIKIAN MENCOLOK. SETELAH MENEMPATKAN KADO RAKSASA ITU DI PINGGIR KURSI, ORANG-ORANG ITU MUNDUR DENGAN TERATUR.

DARI SAMPING KIRI DAN KANAN PANGGUNG KEMUDIAN MUNCUL DUA ORANG BERBADAN TEGAP. KEDUANYA MENGENAKAN SAFARI WARNA GELAP. MEMAKAI KACAMATA HITAM. KEDUANYA KEMUDIAN BERDIRI KOKOH DI SAMPING KIRI DAN KANAN KURSI. DARI TAMPANG KEDUANYA ORANG AKAN LANGSUNG DIINGATKAN BAHWA KEDUANYA ADALAH BODYGUARD YANG SIAP MENJADI TAMENG KESELAMATAN TUANNYA. KEDUA LELAKI ITU TAK BANYAK BICARA. KEDUANYA HANYA MENGGUNAKAN ISYARAT SEPERTI ROBOT.

SEIRING DENGAN MUSIK MENGHENTAK, KEDUA BODYGUARD TADI LANGSUNG TIARAP. KEDUANYA SIAP PASANG BADAN.

DENGAN PAKAIAN GLAMOUR, AMARAL DATANG. SEPERTI HALNYA ARTIS TERKENAL YANG BANYAK DIPUJA, AMARAL MELENGGANG. IA MENGUMBAR SENYUM SEOLAH SEDANG MENGHADAPI BANYAK PENGGEMARNYA.

PADA SISI LAIN, DIBALIK TERALI NENEK MENATAP NANAR PADA CUCUNYA ITU.

AMARAL

Makasih…makasih…sabar ya…

semuanya pasti kebagian …

sabar dong…

( PADA SESEORANG )

siapa namanya ? bagus…mana bukunya…

oke…tanda tangan di sini ya…

iya…iya…

AMARAL TERUS MENGUMBAR SENYUM. NENEK TERUS TERTEGUN. SITUASI KONTRAS ITU TERUS BERTAHAN UNTUK JANGKA WAKTU TERTENTU.

AMARAL

( PADA SEORANG BODYGUARD )

Kalian atur jangan sampai berebut …

Kalian dibayar untuk itu…

Kulitku bisa lecet kalau berdesakan terus…

BODYGUARD ITU TAK BICARA SELAIN SALING MENATAP DENGAN TEMANNYA.

NENEK

( TERIAK )

tak ada penggemarmu, Cu !

tak ada penonton…

tak ada penjaga pribadi…

AMARAL

( KESAL )

Diam !

Apa sih maksud nenek ?!

NENEK

Aku hanya ingin menyadarkanmu…

Bukalah mata hatimu…

Ini bukan panggung sandiwara

untuk melambungkan angan-anganmu…

ini rumah kita…rumah sederhana milik kita…

AMARAL

Lebih baik nenek diam, supaya saya tidak berbuat kasar…

Paham ?!

NENEK

Tidak !

AMARAL

Ah, itulah, Nek !

Jaman sekarang sudah maju…

Jauh lebih maju dari jaman yang nenek alami…

Sekarang jaman globalisasi…

Nenek pasti tidak tahu apa itu globalisasi ?

NENEK

He he he … salah kau, Cu !

Dari dulu juga namanya sa-si-sa-si itu sudah ada …

AMARAL

( TERIAK )

Britney spears segera hadir…

Lihat…kurang apa saya, Nek !

Lihat…lihat…penonton !

Saya cantik luar dalam …

AMARAL KEMUDIAN MELENGGOK MENGITARI KURSI. MENGITARI KEDUA BODYGUARD KHAYALANNYA. LALU AMARAL BERLARI KE DEPAN. PASANG KUPING SEOLEH IA SEDANG MENDENGAR RIUHNYA TEPUK TANGAN. KEMBALI MEMANDANG KE ARAH NENEKNYA.

AMARAL

Dengar…dengar !!

Gemuruhnya sambutan dunia ?

Rrrruarrrr…biasa…

AMARAL BERDIRI ANGGUN. MENEBAR SENYUM. SESEKALI IA MENEMPELKAN JEMARINYA KE BIBIR, KEMUDIAN MENIUPNYA KE ARAH PENONTON. TERSENYUM GENIT.

NENEK

( SEDIH )

Kau terlalu jauh mimpi…

Bangunlah, Cu, hari sudah siang !!

Lihatlah…ini rumah kita…

AMARAL TIDAK PEDULI. IA MELENGGOK SEPERTI SEDANG BERJALAN DI ATAS CATWALK. MEMAMERKAN PAKAIANNYA. MENGITARI BODYGUARD KHAYALANNYA BEBERAPA PUTARAN. KETIKA SUATU SAAT IA MENCUIL HIDUNG SALAH SEORANG BODYGUARD. AMARAL TERLIHAT SEPERTI TERKEJUT.

AMARAL

Aneh…kenapa dicolek tidak kerasa ?

Apa aku mencolek angin ?

Mencolek bayangan ?

AMARAL MULAI MEMERIKSA KEDUA BODYGUARD KHAYALANNYA ITU. KEMBALI IA TERTEGUN. IA TAK MERASA APA-APA. TAPI KETIKA MEMEGANG PINGGANG SALAH SEORANG BODYGUARD, AMARAL KELIHATAN TERSENYUM.

AMARAL

Hidup…ya…hidup…

Ada kehidupan di sana…

NENEK

( MEMEGANG TERALIS )

Ternyata kau memang masih waras…

Yang kau pegang itu memang kehidupan…

He he he … maksud nenek sumber kehidupan…

Tapi yakinlah cucuku, ia bukan apa-apa…

Ia bukan siapa-siapa…

Seperti juga kamu bukan apa-apa…

dan bukan siapa-siapa !!

AMARAL

Aduh..nenek !!

Bener-bener membuat saya kehilangan kesabaran…

Nenek memang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa…

Tapi jangan samakan saya dengan nenek…

Ini dunia saya … dunia angan-angan

NENEK

Kau sebenarnya yang bikin aku kehilangan kesabaran

Dengan cara begini kau akan disadarkan…

DARI DALAM KAMAR ITU NENEK MELEMPAR BOTOL MINUMAN KE ARAH AMARAL. BOTOL ITU TEPAT MENGENAI TUBUH AMARAL. AMARAL TERLIHAT MARAH. PADA KEDUA BODYGUARDNYA IA MARAH.

AMARAL

Kurang ajar !!

Apa kalian sudah jadi robot beneran ?

Apa kalau aku dilembar bom, kalian tetap diam ?!

Kalian kupecat !!

AMARAL MEMBUKA SYAL YANG DIPAKAINYA. LALU SYAL ITU DIPAKAI MENUTUPI JENDELA KAMAR NENEK. BEGITU SYAL ITU DIBENTANG, NENEK TERDENGAR BEBERAPA KALI BERSIN.

NENEK

Mana ada syal artis besar bau apek…

Kau memang terlalu jauh melamun, Cu !

Sayang…orang tuamu tidak ada…

AMARAL

Jangan ungkit masalah itu, Nek !

Aku malas mendengar cerita itu…

Padahal dady di Amerika !!

Mom di Prancis !!

Nenek malu anak dan menantu sukses di negeri orang ?!

NENEK

( DARI TERALIS TERHALANG SYAL )

Aku malu karena punya cucu pelamun !

Buang jauh-jauh cerita busuk itu…

Kedua orang tua meninggal karena kecelakaan !

Tak ada di Amerika…tidak di Prancis…

AMARAL

Dengar !! Dengar !! Kalian dengar !!

Siapa sebenarnya yang melamun ?

Aku atau nenekku ?

Kalian dengar sendiri …

Nenek bilang ayah ibuku meninggal…

Nenek tak mengenal Prancis…tak mengenal Amerika…

Nenek kecewa tak bisa masuk ke dunia anak-anaknya…

AMARAL TERTAWA SEBENTAR KEMUDIAN TAMPAK SEDIH. DARI DALAM KAMAR TERDENGAR NENEK MENANGIS. PADA SAAT ITULAH SALAH SEORANG BODYGUARD MEMBUKA KACAMATA DAN RAMBUT PALSUNYA. IA JUGA MEMBUKA JAS SAFARINYA SEHINGGA TINGGAL KAOS OBLONG PUTIH. BODYGUARD ITU TERNYATA RIO. AMARAL TERTEGUN MELIHAT KEJADIAN ITU. RIO TERSENYUM DAN TEPUK TANGAN.

RIO

Hebat…hebat…

Kau benar-benar telah jadi bintang hebat…

( SINDIRAN )

Kau begitu gampang memecat orang…

tapi tidak apa-apa, untuk maju harus tega !!

Tega menjegal orang lain…

AMARAL

Apa maksud semua ini ?!

Apa Rio ?!

RIO

Penyamaran itu penting…

Semakin sempurna menyamar,

semakin besar kesempatan untuk jadi besar…

AMARAL

Aku tak paham…

RIO

Tak perlu semuanya mengerti…

Semakin banyak mengerti,

justru semakin membuat orang bego…

Sederhana saja !!

AMARAL

Sederhana menghadapi hidup ?

RIO

Sederhana menanggapi hidup…

Untuk maju kau perlu sandaran,

menyandarlah pada orang-orang !!

Untuk maju perlu kesempatan,

curilah kesempatan ketika mereka tidur !!

Untuk maju perlu kepandaian,

pura-puralah seperti orang pandai !!

AMARAL BELUM BEGITU KELIHATAN FAHAM. DARI DALAM KAMAR TERDENGAR NENEK MENANGIS. SEDIH SEKALI KEDENGARANNYA. TAPI BAIK AMARAL MAUPUN RIO, KEDUANYA TIDAK PEDULI. MEREKA TENGAH ASYIK DENGAN DUNIA SENDIRI-SENDIRI.

RIO MERENTANGKAN TANGAN, AMARAL MENDEKATI. KEDUANYA BERPELUKAN. LALU MENARI MELEPASKAN GEJOLAK JIWA MASING-MASING.

AMARAL

Luar biasa…

Mas telah memberi jalan !!

RIO

Aku tak segan jadi jembatan

asal bisa menghubungkan kamu ke pantai harapan…

AMARAL

Sungguh ?!

RIO

Kau bisa rasakan sendiri selama ini !

AMARAL

Mas Rio !

RIO

Aku tidak brengsek seperti kata nenekmu…

Aku tidak sialan seperti kata orang-orang itu…

Aku bukan bajingan seperti kata orang-orang suci…

Aku tidak seperti yang tudingan wartawan-wartawan itu…

AMARAL

Jangan peduli dengan nenek…

Jangan peduli dengan orang-orang itu…

Kita tak ada urusan dengan mereka !!

RIO

Siapa yang kau perlukan ?

AMARAL

( MALU-MALU )

mas Rio tentu …

siapa yang mas Rio perlukan ?

RIO

Kamu … pasti !

KEDUANYA SALING MENATAP. BIRAHI MENYEMBURAT KE UBUN-UBUN. MEREKA MELENGGANG MASUK KE KAMAR SEBELAH KAMAR NENEK. JENDELA TAK DITUTUP. PINTU KAMAR JUGA TAK DITUTUP. MEREKA MASUK KE LORONG GELAP ITU, MEMBIARKAN NENEK DAN SEORANG BODYGUARD YANG SEJAK TADI BERDIRI DIANGGAP KAMBING CONGEK.

SEPATU AMARAL DILEMPAR KE TENGAH PANGGUNG. SATU PER SATU DIAMBIL BODYGUARD. SEPATU RIO DILEMPAR KE TENGAH PANGGUNG. SATU PER SATU DIAMBIL BODYGUARD. DISIMPANNYA DI ATAS KURSI YANG TETAP KUKUH DI TENGAH PANGGUNG. KEMEJA RIO DILEMPAR KE TENGAH PANGGUNG. BODYGUARD TERTEGUN SEJENAK TAPI AKHIRNYA DIAMBIL DAN DISIMPAN DI ATAS KURSI. PAKAIAN AMARAL DILEMPAR KE TENGAH PANGGUNG. BODYGUARD HANYA GELENG-GELENG KEPALA. TAPI SEPERTI ADEGAN SEBELUMNYA, AKHIRNYA IA MENGAMBILNYA DAN DISIMPAN DI KURSI.

BODYGUARD

Sepatu yang membuat lupa diri…

Tak terasa menginjak orang kecil…

Kemeja yang membuat dia silau…

Semua telah ditanggalkan…

Semua teronggok tak berarti di sini…

Keduanya telah menjadi binatang tentu…

Sama-sama menanggalkan pakaian…

( PADA ONGGOKAN PAKAIAN )

Kau dicipta untuk kebaikan,

bukan untuk membuat orang lupa diri…

Ingat itu !!

BODYGUARD MENANGGALKAN SEPATU YANG KIRI DAN DIGANTI DENGAN SEPATU RIO. IA JUGA MENANGGALKAN SEPATU YANG KANAN DAN DIGANTI DENGAN SEPATU AMARAL. IA JUGA MENANGGALKAN JAS SAFARI DAN DIGANTI SEBELAH PAKAIAN RIO DAN SEBELAH PAKAIAN AMARAL. NENEK KELUAR DARI KAMAR DAN TERTEGUN MELIHAT BODYGUARD. KACAMATA TUANYA BERKALI-KALI DIPEGANG DAN DICOPOT SEPERTI TIDAK YAKIN DENGAN APA YANG DILIHATNYA. TAPI KETIKA BENAR-BENAR YAKIN DENGAN APA YANG DILIHATNYA SAAT ITU, NENEK AKHIRNYA TERKEKEH.

NENEK

Tambah satu lagi orang gila sekarang…

Kaukah telah melupakan takdir…

BODYGUARD

Aku perlu mencoba takdir orang lain…

Takdir sebagai manajer artis di sisi kiriku…

Takdir sebagai artis di sisi kananku…

NENEK

Dan takdirmu tak kebagian tempat…

BODYGUARD

Takdirku tetap di sini…

Di dalam dada ini, Nek !

NENEK

Berjalanlah !

BODYGUARD

Aku tak bisa berjalan…

Karena kaki kananku kaki perempuan…

dan kaki kiriku kaki laki-laki…

NENEK

Artinya kau menolak takdir…

BODYGUARD

Bukan !!

Bukan menolak takdir !

Tapi aku ingin kompromi dengan takdir, Nek !

Antara perempuan dan laki-laki pasti bisa kompromi…

Tapi kenyataannya aku benar-benar menyesal…

Jangankan antara perempuan dan laki-laki…

antara kaki kanan dan kaki kiri saja sulit kompromi…

Hebat benar orang di atas awan sana !!

NENEK

Hah…kau telah berjalan ke atas awan ?

BODYGUARD

Aku sering berjalan ke sana !!

NENEK

Kau lihat orang-orang saling kompromi ?

Kau lihat kaki kanan dan kiri kompromi ?

Kau saksikan tangan kanan dan kiri kompromi ?

Atau sama seperti di sini …

Sulit menerima kompromi ketika tak jelas jatahnya !!

BODYGUARD

Aku melihat orang-orang di atas awan sana

Semuanya bersahaja…

Semuanya tertib tanggung jawab…

Di jalan tak pelanggaran lalu lintas …

Di kantor kepolisian tak ada jual beli kesalahan…

Di pengadilan tak ada transaksi pasal dan delik aduan…

Di parlemen tak ada adu jotos kekuasaan…

NENEK

Tentu damai di sana…

Semuanya serba teratur…tertib…

BODYGUARD

Nenek tahu kenapa di atas awan seperti itu ?

Karena tak ada yang punya cita-cita

Tak ada lalu lintas..

Tak ada kepolisian…

Tak ada pengadilan…

Dan absen yang namanya parlemen…

NENEK

Aku tahu sekarang …

Kalau mau tertib lalu lintas, hilangkan lalu lintas !!

Mau bersih, lenyapkan polisi !!

Mau adil, hilangkan pengadilan…

Kalau mau jujur di parlemen….hilangkan…

DARI KAMAR AMARAL TERDENGAR SUARA TEMPAT TIDUR AMBRUK. NENEK DAN BODYGUARD SALING PANDANG.

NENEK

Roboh !

BODYGUARD

Dahsyat !

NENEK

Amblas !

BODYGUARD

Puas !

NENEK

Bencana !

BODYGUARD

Pesona !

NENEK

( MEMBENTAK )

Adzab !!

BODYGUARD

( MENAHAN NAFAS )

huh…

DARI DALAM KAMAR AMARAL MENJULURKAN TANGAN.

AMARAL

Pakaianku !!

Sepatuku…

DARI SEBELAH TANGAN RIO MENGGAPAI-GAPAI.

RIO

Pakaianku !!

Sepatuku !!

PAKAIAN RIO DAN AMARAL MASIH TERONGGOK DI ATAS KURSI. TAK ADA YANG BERANI MEMEGANGNYA. KETIKA BODYGUARD MENCOBA UNTUK MENGAMBILNYA, NENEK MENGHALANGI.

NENEK

Jangan kau sentuh itu…

Itu api…tanganmu akan meletup…

Jauhilah api itu…

Kau akan terbakar nanti !!

BODYGUARD

Api !! Api !!

Aku harus menjauhinya…

NENEK MENDEKATI KURSI ITU. IA BARU SAJA BERUBAH PIKIRAN. NENEK MENJULURKAN TANGANNYA AKAN MENGAMBILNYA, BODYGUARD YANG MENGHALANGI.

BODYGUARD

Jangan sentuh itu !!

Api !! Api !

Jauhilah api itu !!

Terbakar nanti !!

NENEK

Ya…api…aku harus menjauhinya…

***

3

BABAK TIGA

SEBUAH RUANG TENGAH. DI KIRI DAN KANAN TERDAPAT DUA KAMAR. SATU KAMAR AMARAL DAN SATU KAMAR NENEK. AMARAL DUDUK DI KURSI PANJANG, MEMEGANG PERUT, WAJAHNYA TEGANG. AMARAL SAAT ITU SEDANG HAMIL. NENEK DUDUK DI KURSI GOYANG. PANDANGAN AMARAL TERLIHAT KOSONG. MENATAP KE ARAH TAK PASTI. SESEKALI IA MEMEGANG PERUTNYA.

AMARAL

Aku tahu kesuksesan itu harus disongsong…

dengan tenaga dan hati…

Aku telah melakukan semuanya, Nek !

NENEK

( TAK ACUH )

Kau tahu caranya tapi tidak tahu menjalankannya !!

Kau pinter tapi tidak cerdik…

Kancil itu kecil tapi bisa memperdaya harimau…

Kancil memang tidak pintar tapi cerdik…

AMARAL

Nenek…

NENEK

Kau tahu brengseknya lelaki itu…

( MELIRIK PADA AMARAL )

aku tidak tahu dunia,

tapi pernah merasakan hal yang sama !!

Sudahlah !!

Tak perlu berdebat !!

sekarang selamatkan anakmu itu !!

AMARAL

Aib, Nek !

Tak ada yang bisa menanggung aib !!

NENEK

Aib !!

Ya…aib !

Tapi anak itu tetap akan tumbuh dan akhirnya lahir !!

AMARAL

( BERDIRI. MERINGIS SEBENTAR )

Aku harus menghentikan agar anak ini tidak terus besar !!

Aku yakin pilihanku sekarang benar !!

AMARAL MASUK KE DALAM KAMAR. NENEK TERSENTAK KAGET. IA BERDIRI. BERJALAN PELAN MENUJU KAMAR AMARAL. DARI PINTU KAMAR YANG AGAK TERBUKA, AMARAL MENJULURKAN TANGANNYA YANG SEDANG MEMEGANG PISAU. MELIHAT KILAU PISAU, NENEK TERLIHAT KAGET DAN HAMPIR TERIAK.

AMARAL MENARIK TANGANNYA. KINI KEPALA YANG TERJULUR DARI PINTU KAMAR ITU. MELIHAT NENEK YANG MASIH BENGONG. MELIHAT KE SEKELILINGNYA. AMARAL MASUK LAGI DAN TERDENGAR BICARA DARI DALAM KAMAR.

AMARAL

Nenek pasti tahu apa yang akan aku lakukan…

Nenek telah banyak makan asam garam

Pasti tahu apa yang kupilih !!

NENEK

Tidak…aku tidak tahu !

Aku tidak paham, Cu !

Aku tidak mau mereka-reka…

Juga tentang pisau itu !!

AMARAL

Aku tak sanggup, Nek !

NENEK

Jangan !!

Percayalah…kasih Allah seluas samudera…

bahkan ditambah samudera lain…

samudera yang lain lagi…

AMARAL

Aku tak perlu samudera, Nek !

Aku perlu bagaimana menutup aib ini !!

NENEK MENUBRUK PINTU KAMAR. TAK TERDENGAR APA-APA. HENING. BEBERAPA SAAT KEMUDIAN AMARAL DAN NENEK KELUAR DARI KAMAR. PERGELANGAN TANGAN AMARAL DIPERBAN. NENEK MEMEGANG PISAU ITU. KEDUANYA KEMUDIAN DUDUK. TAK BICARA. AMARAL MERINGIS MELIHAT LUKA DI PERGELANGAN DAN NENEK MERINGIS MELIHAT PISAU.

NENEK

Beruntung pisau itu tumpul…

Kalau tidak, nadimu pasti putus !!

AMARAL

Beruntung ada nenek !!

Kalau tidak, pasti bukan pisau yang aku pakai…

NENEK

Kematian bukan penyelesaian…

Kematian bukan akhir dari masalah…

Kematian justru awal dari masalah…

AMARAL

Kematian memang awal masalah…

Tapi masalah yang belum aku tahu…

Sementara hidup jelas awal masalah…

Dari masalah yang telah tahu akibatnya …

Itulah kenapa aku memilih kematian !!

AMARAL BERJALAN KE DEPAN. BEBERAPA LANGKAH LALU BERHENTI. IA SEPERTI SEDANG MENDENGAR SESUATU. AMARAL TERUS MEMASANG KUPINGNYA. IA YAKIN AKAN APA YANG SEDANG DIDENGARNYA. AMARAL SEDANG MENDENGAR SUARA RIO YANG MEMBAWA KEMATIAN.

AMARAL

Rio…kaukah itu ?

Kenapa kau hitam sayang ?

Kaukah bersama malaikat maut itu heh ?

Hitam…kau hitam sayang …

NENEK

Dari dulu dia hitam…

Hanya mata kamu rabun ayam…

Hitam dibilang putih…

Mana mungkin hitam bisa disebut putih…

Antara hitam dan putih punya suara sendiri-sendiri !!

Punya nuansa sendiri-sendiri !!

AMARAL

( TAK PEDULI )

Rio…hitamkan yang kau bawa ?!

NENEK

Sayang kau selalu menggunakan warna orang lain !!

Aku benar-benar kecewa…

jangan-jangan anak muda sekarang

selalu senang dengan warna orang lain !!

Ah…Cu…cu…terlalu jauh kau bercermin pada orang !!

AMARAL TERUS MELANGKAH. DI DEPAN PANGGUNG IA BERHENTI. MENATAP KE ARAH PENONTON. IA MULAI BICARA SENDIRI SEOLAH SEDANG BICARA DENGAN ORANG LAIN. ENTAH SIAPA. DAN ENTAH KENAPA IA BICARA SEPERTI ITU. PANGGUNG SEMAKIN GELAP HINGGA MENGABURKAN WARNA NENEK. KINI HANYA AMARAL YANG DOMINAN TEROMBANG-AMBING KEBIMBANGAN.

AMARAL

Mendekat…mendekatlah, Rio !

Lihat…lihat ke sini !!

Tadi aku akan mengakhiri hidup ini !!

Padahal di perutku ada janin yang mulai hidup….

Ah…kau tak paham bagaimana kegundahanku sekarang…

Tidak…kau tidak cukup pintar !!

Kau menghancurkan harapan !!

( SEDIH. MEMEGANG SELENDANG PUTIH YANG TERSAMPIR DI PUNDAK )

Selendang ini !!

Kau ingat selendang putih ini ?

Aku membawanya agar kau datang !!

Bukankah kau selalu amarah ingin melenyepkan putih ini ?!

Kau ingat itu Rio ?

Ayo ambil Rio !!

Ambil…ambil putih ini !!

Tak ada nenek di sini !! tak ada siapa-siapa !!

Ambil !! Ambil segera !!

( TERTAWA TERBAHAK-BAHAK. BERHENTI. MELANGKAH PELAN. LALU DUDUK DAN MULAI MENANGIS )

Hitam….putih…

Hitamku …putihmu…putihku…hitammu…

Dimana hitamku…dimana hitammu…

Dimana putihku….dimana putihmu…

Putih….hitam…

Putihku…hitamku…dingin…

Angin…dimana hitamku…dimana putihku…

RIO

Hitammu disini…bukan itu…bukan disana…

Lihat…pandang…tatap…

Hitammu di sini…Amaral !

NENEK

Itu bukan hitam, Cu !

Itu abu-abu…abu bukan hitam…karena ada putih di sana…

Abu-abu bukan putih…

Oh…( TERKEKEH ) abu-abu bikin bingung kamu, Cu ?

Tidak…jangan bingung !

Pandanglah abu-abu itu dengan ini …

AMARAL MENATAP GAMANG KE ARAH SUARA TANPA WUJUD ITU. IA BERDIRI. GONTAI. MELANGKAH PELAN. MENYEKA AIR MATA. SELENDANG YANG ADA DI LEHERNYA KEMUDIAN DILILITKAN, LALU KEDUA UJUNGNYA IA TARIK KE ARAH YANG BERLAWANAN. AMARAL TERLIHAT MULAI SULIT BERNAPAS. PADA SAAT ITULAH SEOLAH-OLAH ADA KEKUATAN BESAR YANG INGIN MELEPASKAN LILITAN SELENDANG ITU MEMBUAT AMARAL TEROMBANG-AMBING. AMARAL BERLARI KE SANA KE MARI DITARIK KEKUATAN ITU. IA SESEKALI TAMPAK BERPUTAR DI TENGAH PANGGUNG, KADANG KE KIRI DAN KADANG KE KANAN. GERAKAN-GERAKAN ITU SEPERTI SEDANG MENARI, MELIUK-LIUK LAKSANA ULAR KOBRA MENDENGAR SERULING PAWANG. LAMA IA MELIUK-LIUK SAMPAI AKHIRNYA KEHABISAN NAPAS DAN  BERHENTI. CAHAYA PANGGUNG MULAI TERANG SEHINGGA JELAS SOSOK AMARAL YANG TERDUDUK LESU.

DARI ARAH YANG BERLAWANAN DATANG RIO DAN NENEK. KEDUANYA SALING PANDANG PENUH KEBENCIAN. LALU KEDUANYA PULA MELIHAT AMARAL YANG TERDUDUK LESU. NENEK MULAI TERPANCING AMARAHNYA.

NENEK

Pembunuh ! Bajingan !

Bangsat tengik !

Cecunguk !

Amburadul…sampah !

Busuk !!

RIO

Kutu busuk !

Tua banga !!

Pembunuh !!

Kau cecunguk !!

Kau tengik !! Sampah !!

( MELUDAH ) puih !

NENEK

Terkutuk kau, Rio !

RIO

Terkutuk kau tua bangka !

NENEK

Heh…sompret, kenapa kau ikut-ikutan ?

RIO

Karena kau biang keladinya…

NENEK

Kau yang menghancurkan cucuku, sompret !

RIO

Tapi kau yang kesatu menghancurkan pacarku !

Seharusnya kau urus liang lahat…

Ukur jangan sampai terlalu longgar…

Bumi ini akan menolak jika kau minta kubur terlalu longgar !!

NENEK

Hei…kenapa kau urus masalah kubur segala heh ?

RIO

Karena kau yang sengaja minta dikubur !!

Orang yang suka mengubur keinginan orang lain,

memang selayaknya dikubur !!

NENEK

Lancang kau tengik !

Kau apakan cucuku itu ?

RIO

Kau yang harus jawab !!

Kau apakan pacarku itu heh ?

KEDUANYA DIAM. TERENGAH-ENGAH DAN SEPERTI KEHABISAN KATA-KATA. NENEK DAN RIO BERBARENGAN MENATAP AMARAL YANG MASIH TERDUDUK LESU.

NENEK

Kenapa kau diam ?

RIO

Kau sendiri kenapa ?

NENEK

Aku capek…bengekku kambuh !

RIO

Sama…aku juga capek !

RIO MEMBOPONG AMARAL DIBAWA MASUK KE KAMAR. TAPI DI PINTU KAMAR NENEK MALAH MENGHALANGI.

NENEK

Langkahi dulu mayatku…

RIO

Tak sudi…bisa-bisa aku impoten !!

Minggir atau aku kasih kentut !

NENEK MENUTUP HIDUNG DAN MULAI BATUK-BATUK.

RIO

Baru kentut bohongan sudah panik…

NENEK

( BICARA PADA PENONTON )

Dasar busuk !

Masih hidup saja sudah bau busuk…

Apalagi kalau sudah mati !!

Jangan-jangan akan tercium sampai Amerika…

RIO

Hei…tua bangka hentikan omonganmu !!

Nanti kalau Amerika kentut, kau bisa celaka !!

Nasibmu bisa lebih parah dari Saddam Husein !!

NENEK

Tuh kan…kentut lagi !!

Aku mual tahu…

RIO

Itu baru ngomong…kentutnya belum

NENEK

Cih…pantas cucuku hamil…

Sering kena kentut kau rupanya…

RIO KELUAR DARI KAMAR AMARAL. IA TERSENYUM MANIS PADA NENEK. NENEK TERLIHAT KAGET DAN LANGSUNG GEMETARAN.

RIO

Kenapa kita tidak membentuk koalisi …

Kita bikin poros penyelamat amaral…

Kalau nenek setuju,

kita bisa kompromi bagi-bagi kentut !!

atau kita bagi-bagi kursi….

NENEK

Aku tak butuh kentut …kursi goyangku masih cukup kuat…

RIO

Oke…kita bagi-bagi kursi goyang…bagaimana ?

NENEK

Heh…apa maksudmu tengik ?!

RIO

Kita kompromi saja…kita selamatkan Amaral…

Nenek akui saja, Amaral itu hamil sama nenek…

NENEK

Apa bisa ?

RIO

Namanya juga kompromi,

apa sih yang nggak bisa, Nek ?

RIO MENGGANDENG NENEK LALU DISURUHNYA DUDUK DI KURSI GOYANG. KURSI ITU DIGOYANG-GOYANGKAN OLEH RIO. MULA-MULA PELAN, MAKIN LAMA MAKIN KENCANG. PADA SATU KESEMPATAN DENGAN SELENDANG PUTIH, RIO MENJERAT LEHER NENEK. NENEK TERLIHAT KELOJOTAN. LALU DIAM. TAPI KURSI GOYANG ITU MASIH TERUS BERGOYANG.

***

4

BABAK EMPAT

PANGGUNG ADALAH SEBUAH JALAN CUKUP RAMAI. DARI SATU ARAH MUNCUL AMARAL BERSAMA SEORANG ANAK KECIL, PUTRI (ANAKNYA). DI DEPAN BEBERAPA ORANG YANG SEDANG NONGKRONG, AMARAL MENARI DENGAN GEMULAI. MUSIK PENGIRINGNYA DARI MULUT PUTRI. SELESAI MENARI, AMARAL MENYODORKAN KALENG BEKAS SUSU. BEBERAPA ORANG MEMASUKAN UANG RECEHAN KE DALAM KALENG ITU. AMARAL MENGANGGUK DAN TERSENYUM BAHAGIA. PADA SALAH SATU SUDUT PANGGUNG, KOTAK RAKSASA HITAM PUTIH TERONGGOK TANPA DIPEDULIKAN ORANG-ORANG.

DI SUDUT PANGGUNG, AMARAL DUDUK BERSAMA PUTRI. IA MULAI CERITA TENTANG KEBAIKAN DAN KEBEJATAN ORANG-ORANG.

AMARAL

Kau tahu orang-orang itu, Nak ?

Kemarin ketika matahari di atas,

mereka adalah para pengagum ibu !!

Mereka itu siap menjilati keringat ibu !!

PUTRI

Ih…jorok…

Apa mereka tidak makan ?!

AMARAL

Makan…mereka makan…

Tapi tidak dengan mulut-mulutnya…

PUTRI

Kok gitu, Bu !

AMARAL

Mereka makan tidak dengan mulut-mulutnya…

Mereka makan dengan pantat-pantatnya…

Kau pasti bingung…tapi sudahlah,

tugas seorang ibu memang menyampaikan segala sesuatu

yang membingungkan anaknya…

nenek juga dulu begitu pada ibu…

Buyutmu juga sama saja…bahkan lebih membingungkan lagi !!

PUTRI

Apa pantat orang-orang itu ada giginya ?

AMARAL

Tidak ! Tentu saja tidak ada !

PUTRI

Bagaimana mereka makan ?

AMARAL

Mereka akan memaksa memasukannya …

Mereka memang sering memaksakan kehendaknya…

Mereka akan memakan apa saja…

Memakan siapa saja !!

PUTRI

Memakan ibu ?

AMARAL

Ya ! hampir saja…

Hampir saja ibu mereka makan juga…

Beruntung ibu punya benteng yang kokoh…

Ayahmu…Rio namanya !

( MENERAWANG JAUH )

Dia lelaki tampan juga gagah…

Selalu melindungi ibu dari kerakusan orang-orang itu !!

PUTRI

Ayah hebat !!

AMARAL

Ayahmu memang hebat…

Jauh lebih hebat dari Superman…apalagi Gatotkoco..

PUTRI

Ayah bisa terbang ?

AMARAL

Tentu, sayang ! Ayahmu bisa terbang…

PUTRI

Ayah punya sayap ?

AMARAL

Tidak !

PUTRI

Kok nggak punya sayap bisa terbang ?!

AMARAL

Ia terbang dengan uangnya…

Ia terbang dengan jabatannya…

Ia terbang dengan ambisinya…

Bahkan dengan pikiran-pikirannya…

PUTRI

Ibu ngawur !!

AMARAL

( TERSENTAK KAGET )

apa benar ibu bicara ngawur ?

PUTRI MENGANGGUK. MENDEKATI KOTAK RAKSASA YANG TERONGGOK DI SUDUT LAIN. ANAK ITU MENCOBA UNTUK MENAIKINYA, TAPI TIDAK BERHASIL. IA MENGAJAK IBUNYA UNTUK MENAIKI KOTAK RAKSASA ITU. AMARAL SEPERTI MULAI TERSADARKAN DENGAN KEHADIRAN KOTAK ITU. KOTAK YANG PERNAH MELAMBUNGKAN FANTASINYA.

AMARAL

Jangan kau naiki kotak ini, sayang !

Kotak ini terlalu tinggi…

Tak bisa kau jangkau sendiri !!

PUTRI

Ibu pernah naik kotak ini ?

AMARAL

( TERSENYUM PAHIT )

Ya…ya…dulu ibu pernah menaiki kotak ini…

Ibu juga pernah merasakan jatuh dari kotak ini…

( SEDIH. MENGUSAP AIR MATA )

PUTRI

Ibu nangis ?

Kata ibu jangan pernah menangis…

Kata ibu menangis itu bodoh !!

Kata ibu…menangislah kalau menghadapi kematian…

Siapa yang akan mati sekarang, Bu ?

AMARAL

( TERSENTAK KAGET )

Ibu tidak menangis…

Ibu hanya ingat Buyutmu… ibu juga ingat ayahmu…

PUTRI

Apa uyut naik kotak ini, Bu ?

SEORANG LELAKI

Buyutmu tentu tidak pernah menaiki kotak ini, Nak !

Tapi ia seperti ditulis sejarah…

Pernah melarang ibumu menaiki kotak ini…

Inilah kotak raksasa… kotak fantasi…

Yang hanya akan membuat gila siapa saja yang menaikinya…

AMARAL

( MEMBENTAK )

Jangan hancurkan anakku !

SEORANG LELAKI

Tidak mungkin, Nyonya !

Karena saya adalah tanah di sini …

Tanah yang pernah menyaksikan bagaimana anda dulu…

Demikian mabuk kesuksesan…

Demikian mabuk kehormatan…

Demikian mabuk kekayaan…prestasi…pujian…dan…

AMARAL

Cukup !

PUTRI

( KAGET DAN HAMPIR MENANGIS )

Orang gila ya, Bu ?!

AMARAL

Ya, dia memang gila !

Ayo kita menyingkir dari sini…

PUTRI

Ayo, Bu ! kita menyingkir…

Ibu menari lagi…dan Putri main musik lagi…

AMARAL MENJAUHI KOTAK RAKSASA DAN LELAKI MISTERIUS ITU, TAPI ENTAH KENAPA KAKINYA SEPERTI TERPATOK. TAK BISA MELANGKAH. PUTRI TAMPAK KAGET DAN TERUS MEMAKSA AGAR AMARAL MENINGGALKAN TEMPAT ITU. LELAKI MISTERIUS ITU HANYA TERSENYUM PAHIT.

PUTRI

Ayo, Bu !

Ibu harus nari… nari, Bu !

AMARAL

Sebentar sayang… ibu tidak bisa melangkah…

SEORANG LELAKI

Kau tak mungkin meninggalkan tempat ini…

Tanah ini adalah saksi…

Bagaimana kau terbius fantasimu…

Kau tak mungkin meninggalkan tempat ini…

Tanah ini adalah saksi…

Bagaimana kau tergila-gila kehidupan orang lain…

PUTRI

Lari ibu… ayo lari !

AMARAL

Tidak bisa sayang…

PUTRI

Menari… ayo ibu menari…

Aku yang main musik….

PUTRI MAIN MUSIK DENGAN MULUTNYA. AMARAL MULAI MENARI. TAPI ENTAH KENAPA TARIANNYA TIDAK LUWES. TARI ITU PATAH-PATAH SEPERTI GERAKAN ROBOT. KAKU DAN MENYEBALKAN. LELAKI MISTERIUS ITU LAGI-LAGI TERSENYUM.

SEORANG LELAKI

Kau tak bisa menari…

Karena dulu kau pernah menghina tarian…

Kau sering menelantarkan tarian…

Kau anggap tarian adalah tiket masuk…

Ke dunia gemerlap dan erotis…

Kau telah menelantarkan tarian…

Sekarang rasakan bagaimana tarian mengutukmu !!

PUTRI TERUS MAIN MUSIK DAN AMARAL TERUS MENARI PATAH-PATAH. KEDUANYA TERUS MELAKUKAN ITU TANPA LELAH DAN TANPA MEMPEDULIKAN LAGI ORANG-ORANG DI SEKITARNYA YANG MULAI MENCIBIR. BEBERAPA ORANG BAHKAN ADA YANG MELEMPARNYA DENGAN BEKAS MAKANAN DAN KOTORAN.

PUTRI

Lapar…Bu, lapar !

AMARAL

Sebentar sayang…tugas kita belum selesai…

Ayo…musiknya mana…

Ibu akan menari terus…

PUTRI

Lapar…lapar…

AMARAL

Lapar ? apa itu lapar sayang ?

Ibu tidak pernah merasakannya…

PUTRI BENGONG DAN MENATAP TAJAM KE AMARAL. LELAKI MISTERIUS ITU LALU MEMBERI ISYARAT AGAR PUTRI MENDEKATI KOTAK RAKSASA.

AMARAL

Buyutmu dulu tidak pernah mengajarkan ibu lapar…

Buyutmu hanya mengajari bagaimana kita memberi orang lapar…

Buyutmu memang hebat…

PUTRI

Hebat seperti ayah, Bu ?

AMARAL

Ya, hebat seperti ayah !

PUTRI BENAR-BENAR MENDEKATI KOTAK RAKSASA ITU TAPI TIDAK BERHASIL. LAGI-LAGI IA JATUH. AMARAL BERHENTI MENARI. MEMEGANG PUTRI AGAR MENAIKI KOTAK ITU. PUTRI SEKARANG TELAH MENAIKI KOTAK ITU. IA TAMPAK SUKACITA. ANAK ITU BAHKAN MENARI-NARI. PADA SAAT  PUTRI MENARI ITULAH DARI DALAM KOTAK TERDENGAR ADA SUARA. PUTRI LONCAT MEMBURU AMARAL.

PUTRI

Takut…Putri takut…

SEORANG LELAKI

Ada yang tidak beres dengan kotak ini…

Awas… awas… kalian menyingkir !!

Jangan-jangan ada bom waktu !!

AMARAL

Bom ? awww…bom…bom !!

Ke sini sayang… ada bom…

Bom…!

( BERPIKIR MENGINGAT SESUATU. IA TERINGAT UCAPAN NENEK KETIKA IA SEDANG BICARA DENGAN RIO )

Bom ? apa kentut ?

SEORANG LELAKI

Tenang…sabar…kalian harus bisa menjaga diri !

Percayalah…selama ada saya,

semua aman dan terkendali !

PUTRI

Bom ?

Bom itu apa, Bu ? Bom itu manis apa pahit ?

AMARAL

Bom itu…ya…bom itu seperti tangan raksasa…

Akan merenggut siapa saja yang lemah…

Bom itu…

Ah…sudahlah !

Nanti kalau kau besar, akan tahu apa itu bom !

PUTRI HANYA DIAM. BENGONG. BAHKAN TERLIHAT IA MULAI FRUSTASI. IA MENDEKATI KOTAK ITU LAGI, TAPI CEPAT-CEPAT DILARANG OLEH LELAKI MISTERIUS ITU.

SEORANG LELAKI

Lihat…ada yang bergerak di dalam kotak ini !

Ada kehidupan…

AMARAL

Bukalah !

SEORANG LELAKI

Ya…saya harus membukanya !

Satu…dua…

Apa saya harus membuka ini ?

Kalau ini bom waktu…saya pasti korban pertama…

( BERPIKIR )

tapi nggak apa-apa…kesempatan untuk jadi pahlawan,

tak pernah datang dua kali…

kalau ini bom waktu dan saya mati…

tolong beritahukan pada tukang ketupat di sudut gang ini…

saya sudah dua kali belum bayar…

makan kerupuk tiga, tak pernah saya hitung…

LELAKI MISTERIUS ITU MULAI MEMBUKA TALI KOTAK RAKSASA ITU, KEMUDIAN BUNGKUSNA DIBUKA SATU PERSATU. LALU TUTUP KOTAK ITU DIBUKA. ADA YANG MENGEPUL DARI DALAM KOTAK.

SEORANG LELAKI

Kurang ajar… ternyata bukan bom…

Ini hanya kotak kentut…

Kau benar… ini bukan bom tapi kentut…

AMARAL

( MENENGOK KE DALAM KOTAK. IA KAGET )

ada orang… ada orang…

lihat… ada orang…

LELAKI MISTERIUS ITU MEMERIKSA SEMENTARA AMARAL MENJAUH DAN MENGGENDONG PUTRI. LELAKI MISTERIUS ITU MENDENGUS KARENA MENCIUM BAU YANG TAK SEDAP.

SEORANG LELAKI

Sialan ! sudah mati masih kentut…

( BERPIKIR )

oh…bukan…bukan kentut…

ia memang sudah mati !

yang saya cium tadi…oh alah…bau bangkai !

ya…benar…bau bangkai !!

AMARAL

Bangkai ?!

PUTRI

Bangkai itu apa, Bu ?

AMARAL

Bangkai itu…bau…ya…bau !

LELAKI MISTERIUS ITU MULAI MENGGOYANG-GOYANG TUBUH KAKU ITU. DILUAR DUGAAN MAYAT ITU BANGKIT. AMARAL MEMEKIK KAGET KARENA TERNYATA YANG DI DALAM KOTAK ITU NENEK. NENEK KELUAR DARI KOTAK, SEMENTARA LELAKI MISTERIUS MENJAUH KETAKUTAN.

AMARAL

Nek…nenek ? nenekkah itu ?

Ah, ternyata nenek masih bisa senyum…

Tapi apakah nenek hidup atau mati ?

SEORANG LELAKI

Dia telah mati…

Aku mencium bau bangkai tadi…

Dia itu pasti arwah penasaran…

NENEK

Aku bukan arwah penasaran…

Tapi jasad dan jiwa penasaran !!

Karena belum tuntas bicara pada cucu dan cicitku !!

AMARAL

Nenek…?

NENEK

Kau tak perlu kaget…

Sejarah telah menuliskan semuanya dengan baik…

Perjalanan kau juga telah dituliskannya…

Ketika kau punya anak…ngamen…makan…

Juga telah dengan baik dituliskannya…

Percayalah !

AMARAL

Apa maksud nenek ?

NENEK

Aku hanya ingin mengatakan …

Apa yang aku katakan dulu adalah kebenaran…

Riomu memang brengsek…

Sepanjang hidupnya terus brengsek !!

Sepertinya dia dilahirkan untuk brengsek !!

AMARAL

Sudahlah, Nek !

Rio itu suamiku…bapak cicit nenek ini !!

PUTRI

Uyut, Bu ?!

Uyut bau kentut, Bu ?

AMARAL

Ya…karena uyut sudah tua…

PUTRI

Apa semua yang tua bau kentut ?

NENEK

Tidak !

Tidak semua orang tua bau kentut !!

PUTRI BERLARI KE ARAH NENEK. AMARAL YANG MENCEGAH TIDAK BISA MENGHALANGI. LELAKI MISTERIUS JUGA TAK BISA BERBUAT APA-APA. NENEK KEMUDIAN MENGGENDONG PUTRI. IA MULAI CERITA TENTANG KEHIDUPAN AMARAL TANPA MEMPEDULIKAN AMARAL SENDIRI.

NENEK

Ibumu itu terlalu egois…

Ia selalu menganggap benar sendiri…

Padahal kebenaran itu milik semua !!

Milik bersama !!

PUTRI

Uyut masih batu kentut !!

NENEK

( TAK PEDULI DAN TERUS BICARA )

Kebenaran ada dimana-mana…

Tidak boleh dikuasi oleh seseorang !!

Kalau saja ia tidak egois, tentu akan jadi lain ceritanya…

Bapakmu juga sama-sama egois…

Bahkan brengsek !!

PUTRI

Huh…bau !!

NENEK

( TIDAK PEDULI DAN TERUS BICARA. TAK BISA DIREM )

Ia tidak saja membuat ibumu senewen…

Tapi telah berhasil membuat malu sepanjang masa !!

Kau tau, Nak, ibumu pernah mau bunuh diri !!

Ia kira dengan bunuh diri semua urusan akan selesai…

Tapi sudahlah…kau jangan seperti ibumu…

Pandanglah dunia dengan bijaksana !!

Minumlah jamu setiap saat kau merasa perlu

Jangan minum sirup…

PUTRI

Mau sirup, Bu !!

NENEK

( TERSENYUM PAHIT )

Minum sirup itu manis sekarang !!

Enak sekarang !!

Tapi bisa membuat kamu mencret…

Tapi jamu…pahit sekarang…

Tapi bisa membuat kamu sehat !!

Paham kau ?

PUTRI MENGGELENG BAHKAN MEMAKSA UNTUK TURUN. AMARAL TERTUNDUK MALU. IA SEPERTI SEDANG MELIHAT DIRINYA DI CERMIN. AMARAL KEMUDIAN MULAI BANGKIT, MENATAP KE ARAH TAK TERBATAS. IA MULAI MENARI. ANEHNYA KINI BISA LUWES SEPERTI SEDIA KALA.           AMARAL TERTERLIHAT KAGET TAPI IA TERUS MENARI. PUTRI MULAI BERMAIN MUSIK DENGAN MULUTNYA.

NENEK MEMPERHATIKAN DENGAN SENYUM. LALU IA MELIHAT KE ARAH LELAKI MISTERIUS ITU. KEDUANYA SALING MENATAP SEPERTI DUA SAHABAT YANG TELAH LAMA BERPISAH.

NENEK

Tugas kamu sudah selesai !

Sekarang kembalilah !

SEORANG LELAKI

Kembali ke mana ?

Aku tak tahu jalan kembali…

NENEK

Kemarilah !

LELAKI MISTERIUS ITU LALU MENDEKATI NENEK. KEDUANYA SALING MENATAP. LALU MENDEKAT DAN SEMAKIN MENDEKAT. LELAKI MISTERIUS ITU TIBA-TIBA HILANG DARI PANDANGAN DAN NENEK LANGSUNG AMBRUK. IA BENAR-BENAR MATI SEKARANG. MELIHAT KEJADIAN ITU AMARAL TIDAK PEDULI. IA TERUS MENARI SEMENTARA PUTRI TERUS BERMAIN MUSIK DENGAN MULUT.

***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s