tempat istirahat

Posted: April 30, 2010 in drama, naskah drama, Uncategorized

(DI PEKUBURAN UMUM, TERDENGAR SUARA-SUARA BURUNG. DERU RIBUT KENDARAAN DI KEJAUHAN. SEPASANG ORANG TUA SEDANG DUDUK DI BANGKU. HARI SUDAH SORE).

Nenek           :  Jadi jauh.

Kakek           :  Jadi lebih jauh.

Nenek           : Aku gembira bisa duduk di sini. Bagaimanapun, kebaikan merekalah menempatkan bangku di sini, dimana kita bisa bebas melihat bunga.

Kakek           :  Apa yang akan kita makan nanti malam?

Nenek           :  Sudah bertahun-tahun.

Kakek           :  Kukira aku mulai lapar.

Nenek           :  Maret, Juli, September. Sudah September lagi. Tak banyak di kota besar, dimana kau bisa bebas melihat bunga, kecuali di pasar bunga atau di toko-toko. Tapi kau tak dapat duduk-duduk di sana. Aku gembira kita bisa ke sini pulang belanja. Di sini bisa duduk-duduk sambil memandangi bunga-bunga, di pekuburan ini.

Kakek           :  Tak dapat lama-lama.

Nenek           :  Kita beruntung mendapatkan pekuburan di tengah perjalanan pulang.

Kakek           :  Beruntung?

Nenek           :  Sungguh tenteram di sini.

Kakek           :  Tak lama bedug akan berbunyi dan adzan akan berkumandang. Hari sudah maghrib. Kita akan pulang. (HENING, MAU PERGI) Kita harus pulang kalau sudah maghrib. (HENING) Hari akan jadi gelap. Kita harus di rumah (HENING) Makan malam.

Nenek           :  Tak ada tempat yang lebih tenteram daripada dalam kuburan.

Kakek           :  Tak dapat lagi menaiki pagar, seperti biasanya dulu.

Nenek           :  Nisan-nisan dari batu marmer.

Kakek           :  Kau dengan nisan-nisanmu.

Nenek           :  Sebuah nisan dipahat dengan ayat-ayat suci.

Kakek           :  (MELIHAT PADA KERANJANG BELANJAAN) Apa di keranjang itu?

Nenek           :  Pahatan yang halus, pada batu marmer putih.

Kakek           :  Ada sesuatu dalam keranjang itu yang tak kuketahui apa.

Nenek           :  Di atasnya diberi atap dari seng. Tiang-tiangnya dari besi. Sungguh aman berada di bawah atap yang kokoh.

Kakek           :  Kulihat kau memungut sesuatu tadi. Aku melihatnya dengan sudut pandangku ketika di muka penjual, kau selipkan sesuatu ke dalam keranjang.

Nenek           :  Nisan yang indah. Satu dua jambangan porselin dengan  bunga-bunga dahlia. Tetapi ada sesuatu yang khusus dengan badan kuburan yang terbuat dari marmer putih itu. Ukiran halus seorang ahli. (IA MEMUKUL TANGAN SI KAKEK DARI KERANJANG) Jangan menggerayangi keranjangku!

Kakek           :  Dendeng?

Nenek           :  Bukan.

Kakek           : Atau pindang?

Nenek           : Matanya kayak mata elang saja.

Kakek           : Pindang tongkol?

Nenek           :  Jika mau tahu, sepotong pindang bandeng.

Kakek           :  Pindang bandeng ya?

Nenek           :  Sudah lama kita tak makan bandeng.

Kakek           :  Aku suka bandeng.

Nenek           :  Itulah sebabnya kuambil itu. Kukatakan pada diriku sendiri: sore Sabtu ini kita akan makan dengan lauk yang layak. Kita akan makan sambel petai dan sayur lodeh.

Kakek           :  Dan pindang bandeng.

Nenek           :  Ya, ada sesuatu yang istimewa dengan kubuan itu. Marmer putih yang memantulkan cahaya matahari.

Kakek           :  Sebentar lagi akan terbenam.

Nenek           :  Tenteram. Kau tak dapat temukan yang lebih menyenangkan. Dimana-mana tempat teratur. Lihatlah sekelompok bunga-bunga di sana. Anggrek.

Kakek           :  Anggrek pada kuburan? Tentu nantinya mereka akan meletakkan setampir nasi tumpeng.

Nenek           :  Anggrek!

Kakek           :  Nah, kini kau tahu, kuburan siapa itu, kan?

Nenek           :  Aku tak menyangka kalau ada orang yang memasang bunga anggrek.

Kakek           : Itu kuburan Mas Parto, Kasir Pegadaian.

Nenek           :  Mas Parto? Apa ia mati?

Kakek           : Mereka baru saja menguburnya.

Nenek           : Mas Parto, Yah. Buat lelaki tak jadi soal benar umur itu. Baru saja ia melewati usia sembilan puluh.

Kakek           :  Selama hidupnya, ia telah mengenyam madu kehidupan. Segala bentuk kesenangan; dari arak, perempuan, dan perjudian, segala. Ia punya cara yang jelas.

Nenek           :  Uang mengalir seperti air. Anggrek. Dikubur bersama dengan kuburan isterinya.

Kakek           :  Setelah limapuluh tahun bersama, baru di situlah mereka bersanding tanpa bertengkar lagi.

Nenek           :  Aku tak tahu, ketika hendak memesan nisan, apakah mereka akan mencantumkan huruf-huruf yang berbunyi: Mas Parto dan Isteri. Dalam mautpun mereka tak terpisahkan.

Kakek           :  Sudahlah…

Nenek           :  “Dalam maut”…

Kakek           : Jangan mulai lagi.

Nenek           : Aku tahu, apa-apa saja yang akan dikatakan orang tentang dia.

Kakek           :  Harusnya kita tak berhenti di sini. Setiap kali kau akan selalu terpaku.

Nenek           :  Di mana mereka akan mengubur kita, heh?

Kakek           :  Hari begini sudah terlambat untuk berfikir begitu. Sudah hampir waktunya buat makan malam.

Nenek           :  Di mana mereka akan mengubur kita? Dalam sebuah lubang yang hina dan terasing.

Kakek           :  Cobalah berfikir tentang yang lain. Berfikirlah tentang pindang bandeng.

Nenek           :  Tak heran kalau di pinggir jalan kereta api. Di suatu tempat dimana tak pernah dikunjungi seorangpun. Dan mereka akan mengubur kau di dalam sebuah lubang buruk lainnya. Pada lubangmu sendiri. Kita akan terpisah.

Kakek           : Jika kita berdua sudah mati, apalagi yang hendak dipikirkan?

Nenek           :  Dikubur bersama orang-orang asing. Sungguh tak pantas. Aku bahkan tak sempat berfikir akan mendapatkan hiasan yang layak. Tak banyak yang kumaui. Sebuah batu nisan yang sederhana, untuk memberitahu siapa yang terkubur di dalamnya.

Kakek           :  Kita tak mampu membiayai penguburan kita sendiri. Bahkan buat membiayai menggali lubangnya, kita tidak mampu.

Nenek           :  Aku suka kuburan marmer yang megah.

Kakek           :  Biayanya begitu banyak.

Nenek           :  Sebuah nisan yang besar diukir begitu indahnya.

Kakek           :  Beratus-ratus ribu. Kita tidak punya beratus-ratus ribu.

Nenek           :  Dan pada nisan itu ditulis : Pamujo dan Norma, dalam maut mereka tak terpisahkan. Tapi mereka akan memisahkan kita. (HENING) Jika kita punya uang, kita bisa bersama-sama selalu, selama-lamanya, sampai akhir zaman.

Kakek           : Kita tidak mempunyai uang. Kita tak pernah mempunyainya. (HENING)

Nenek           :  Salah siapa itu?

Kakek           : Itu cerita lama, sayang. Biarlah berlalu.

Nenek           :  Jika kau seorang milioner, kau bisa membeli kuburan sendiri yang terbuat dari batu marmer putih. Kau dapat membeli pemakaman keluarga sendiri. Jika kau seorang milioner.

Kakek           : Aku tidak pernah ditakdirkan jadi milioner.

Nenek           :  Mas Parto menumpuk uang. Otaknya tidak seperempat cerdas otakmu, tapi ia menumpuk uang. Tanpa pertolongan isterinya. Ekonomi? Ia tak mengerti arti kata itu. Tapi di sana mereka terbaring bersama ditutupi bunga anggrek, tinggal menunggu batu nisannya saja.

Kakek           :  Aku tak dapat mencari uang.

Nenek           :  Sudah kukatakan. Berkali-kali sudah kukatakan bagaimana. Kau tak mau mencari uang. Itulah kesukarannya.

Kakek           :  Aku bekas seorang pembuat sepatu, kubikin sepatu.

Nenek           :  Seharusnya kau mudah mencari uang.

Kakek           :  Dalam bertahun-tahun kita nikah, tak pernah kakimu beralas.

Nenek           :  Seharusnya kau jadi tukang daging. Jual daging banyak dapat uang. Berapa harganya sepotong limpa, dan yang bagaimana yang bisa mengalirkan uang. Kita bisa menghemat, hari demi hari. Aku sudah bisa jadi seorang milioner, jika sekiranya kau menjadi seorang penjual daging.

Kakek           :  Aku tak bisa membayangkan jadi sesuatu selain jadi tukang sepatu.

Nenek           :  Jika dulu kau mau menurut saranku, kau sekarang sudah jadi milioner.

Kakek           :  Aku tak tahu kau ingin jadi milioner. Kukira kau hanya menggoda.

Nenek           :  Menggoda! (HENING)

Kakek           :  Kau telah mengawini lelaki yang salah.

Nenek           :  Aku melakukan kewajibanku mendorong kau, kau katakan itu menggoda.

Kakek           :  Kau harus mengawini lelaki yang pintar cari uang. Seperti Mas Parto. Aku tak punya bakat untuk berbuat begitu, maka akan sia-sia saja meski kucoba. Tapi aku menjalaninya bersama kau. Tiap lebaran kubelikan kau pakaian, dan segala macam yang bisa kucapai dengan uangku. Jika kau menghendaki orang yang pandai memberi uang, seharusnya kau kawin dengan orang lain.

Nenek           :  Jika kau tak mau aku mendorongmu, mengapa dulu kau minta aku jadi isterimu?

Kakek           : Semua yang kau pikirkan, adalah batu nisan, itulah.

Nenek           :  Apalagi yang bisa kita pikirkan?

Kakek           :  Aku.

Nenek           :  Kau bahkan tak punya batu nisan sendiri.

Kakek           : Aku tidak mau bicara tentang batu nisan.

Nenek           :  Lalu apa yang sedang kau pikirkan?

Kakek           :  Aku.

Nenek           :  Kau.

Kakek           :  Kau katakan aku telah menyia-nyiakan seluruh waktuku.

Nenek           :  Apa lagi yang telah kau lakukan dengan waktumu? (TERDENGAR SUARA BEDUG DIPUKUL DI KEJAUHAN. OBROLAN MEREKA TERHENTI)

Nenek           :  Senja telah datang.

Kakek           : Selalu datang setiap hari. (HENING) Tak bisakah kau melupakannya?

Nenek           : Semakin dingin.

Kakek           : Pegang tanganku. (KAKEK MEMEGANG TANGAN NENEK)

Nenek           :  Suara bedug itu.

Kakek           : Nanti jangan lewat ke sini lagi. (TERDENGAR SUARA ADZAN)

Nenek           :  Adzan.

Kakek           :  Waktunya sembahyang.

Nenek           :  Kita pergi. (HENING) Mari.

Kakek           :  Kukira sudah terlambat menghendaki jadi milioner sekarang. (HENING)

Nenek           :  Ada pindang bandeng buat malam.

Kakek           : Bandeng, eh?

Nenek           :  Dan sambel petai dan sayur lodeh.

(MEREKA MENGGOTONG KERANJANG BELANJAAN MEREKA DAN PERGI. NENEK MENGHENTIKAN LANGKAHNYA, MEMANDANG KE ARAH TUMPUKAN BUNGA-BUNGA)

Nenek           :  Anggrek!

Kakek           :  Kau tak dapat makan bandeng kalau nasinya dingin. (PERLAHAN KAKEK MENDORONGNYA LAGI)

Nenek           :  Tidak. Tak ada yang dapat melebihi pindang bandeng dan sepiring nasi hangat.

MEREKA PERGI. FADE BLACK OUT.

– S E L E S A I –

Tik Ulang

Bandung , 4 Mei 2001

Ocky Sn

Karya : David Campton

Komentar
  1. […] « menyikapi susah,senang sahabat bbrapa contoh naskah drama Mei 4, 2010 -0.218938 […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s