TUMBANG

Posted: April 29, 2010 in indonesian language, Uncategorized

Tumbang -Naskah Drama

Ditulis oleh dahlanforum di/pada April 2, 2009

Karya Trisno Sumardjo

Perempuan

Hantu?

Lelaki

(bangkit, memegang bahu perempuan itu dan melepaskannya lagi) Tidak, tidak, kau bukan hantu. Cuma aku, aku saja.

Perempuan

Apa maksudmu?

Lelaki (ketawa kecil).

Ah, tidak apa-apa Tidak apa-apa, Dik.

Perempuan

Kau tidak senang melihat aku?

Lelaki

Bukan begitu. Aku senang kau datang kemari. Mana tempatmu?

Perempuan

Tempatku jauh….

Lelaki

Jauh? Di…. di sana? (menuding ke atas). Berapa kali bumi ini jauhnya?

Perempuan (tercengang)

Mas.Omongmu tidak karuan!

Lelaki

Di neraka atau di sorga?

Perempuan

(marah) Rupanya kau sudah menjadi gila! Neraka atau sorga, katamu? Di sorga tak mungkin. Sebab kaulah yang menghalang-halangi aku untuk pergi ke situ kelak. Kaulah yang menyeret aku ke neraka!

Lelaki

Benar…. benar, Dik. (berjalan ke kursi, duduk, matanya nanar memandang ke satu jurusan).

Perempuan

Bukankah salahmu melulu, bahwa penghidupan kita ibarat neraka? Sehingga aku lari dari padamu, setahun yang lalu?

Lelaki (bertopang dagu)

Ya, ya Dik. Maaf, maaflah.

Perempuan

(lunak kembali) Mas, bukan maksudku untuk membalas dendam.

Lelaki

(mengangguk) Kutahu, Dik, kutahu baik hatimu.

Semuanya ini salahku. Penderitaan orangtuaku.

Sengsaramu. Semua aku yang menyebabkannya. Aku penjudi, peminum, penjahat, duh! Cinta kasih orang tua dan cinta kasihmu, betapa aku membalasnya?

Harta benda orang tua habis lenyap karena aku.

Habis dengan judi dan minum. Kusakitkan hati ayahku, kusedihkan ibuku. Dan kau Dik, (Memandang perempuan muda. itu) betapa aku membalas kebaikanmu?

Dengan malas, dengan minum, brendi berbotol-botol yang kubeli dengan uangmu! Kau yang selalu kerja keras, aku yang menghabiskan uangmu, aku yang menyayat hatimu, menyiksa jiwamu! Maaf, maaf, Dik!

Perempuan

Biarlah, itu sudah lampau. Sekarang aku sudah bisa mendapat mata pencaharianku sendiri. Tapi kau sendiri?

(melihat di sekitarnya). Kau kekurangan segalanya, Mas.

Lelaki

Hukumanku, Dik, biarlah. Ini sudah setimpal.

Perempuan

Kalau mau, aku bisa menolong….. (membuka tasnya).

Lelaki

(cepat) Ah tidak! Tidak. Terima kasih, Dik.

Perempuan

Tak usah malu-malu, Mas. Kuberikan dengan rela hati.

Lelaki

Aku tahu, aku tahu! Tapi jangan, jangan aku kauberi apa-apa. Ah, kalau kupikir bahwa kau mau menolong aku, kau yang kujerumuskan ke jurang kemiskinan dan kehinaan! Segala kesabaranmu, kerelaan dan cintamu, kubalas dengan apa? Dengan muka masam, kekasaran dan penghinaan. Ah, betapa sering kuhina kau, Dik?

Betapa sering kulemparkan cacian ke mukamu bahwa kau berasal dari kaum rendah, tak pantas bersama aku, sebab aku seorang bangsawan? -Bangsawan, ha, ha! Apa artinya turunan bangsawan, jika tidak disertai kebangsawanan jiwa? O, orang yang buta tuli seperti aku ini! Picik dengan persangkaanku bahwa orang berbangsa lebih dari orang lain, mesti di atas orang biasa. Picik, pandir, dan gila! Sedangkan kau, Dik, seribu kali kau lebih bangsawan daripada aku!

Perempuan

Sudahlah. Jangan kau siksa dirimu dengan sesalan saja. Sekarang kau sudah insaf. Tutuplah riwayat yang dulu-dulu.

Lelaki

Riwayat yang dulu masih berakibat sampai sekarang.

Hanya kepahitan sajalah yang kau terima dari aku.

Segala kenikmatan hidup sudah kurenggut, kuhela, kucuri dari padamu, Dik. Tak pernah ada yang kuberi padamu….O. Keangkuhan darah bangsawan yang tak mau campur dengan darah murba, karena itu dianggapnya rendah, kotor. Tapi siapakah yang kotor, Dik? Aku, aku sendiri! Dan kaulah yang murni!

Meskipun karena kemiskinanmu engkau menjadi ….. Dik, kau masih menjalankan pekerjaan yang….

yang…..?

Perempuan

Ya, Mas, yang hina, yang sangat hina, katakan sajalah.

(air matanya berlinang-linang)

Lelaki

(berdiri) Aku yang salah, Dik! Cintamu yang murni itu bahkan mau kauberikan kepada aku yang kotor ini, tapi kau kuinjak-injak, kuhina, kurusak, sehingga… sehingga kau terpaksa pergi menjual cintamu…

Demi Allah- Allah yang tak pernah kusebut dulu, kini kusebut, Dik- (memegang tangan perempuan itu kedua-duanya dengan kedua belah tangannya, berlutut), demi Allah, ampunilah aku. Maaf, maaf, Dik!

Perempuan (air matanya meleleh)

Cukup, cukuplah, Mas.

Lelaki

Kau ampuni aku, Dik? Katakan….!

Perempuan

Ya, ya Mas, berdirilah.

Lelaki

Katakan! Kumau dengar perkataan maafmu.

Perempuan

Kumaafkan engkau, Mas, sudahlah.

(berdiri)

Sumber: Horison, Kitab Nukilan Drama

Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s